Ketika Senja

Mengapa kau selalu hadir di saat matahari kembali ke peraduan? Senja tak pernah memintamu untuk datang. Begitu pun aku yang selalu terpaku dan tak tahu langkah apa yang harus kubuat dalam menghadapi bidak-bidak takdir. Apakah aku begitu bodoh hingga tak sanggup berbuat sesuatu sekecil apapun? Kenyataannya bukan aku bodoh, tapi akulah kebodohan itu sendiri.

Pahit memang. Suka tak suka, mau tak mau, menelan pahit telah menjadi rutinitas sehari-hari. Namun bukan soal kenyataan itu terasa pahit, tapi pahit itu sendiri adalah kenyataan. Kenyataan yang tak sedikit pun berkurang ditelan waktu. Tak ada tanda akan memudar meski hanya sebentar. Malah semakin pekat di tengah ingatan yang kian melekat. Di tengah kegelisahan yang tak kunjung mencair melainkan memadat.

Seberapa pun keras aku berusaha, tetap tak mampu ku menghindar dari kenyataan yang terjadi. Karena sejatinya aku hanya berpindah dari satu kenyataan ke kenyataan lainnya tanpa menghapus kenyataan sebelumnya. Kenyataan itu terus mengekor dan menjelma masa lalu. Kemudian memaksa untuk dirindu. Atau setidaknya, menghadirkan kembali rasa pilu yang semestinya sirna sejak dulu.

Ah, masa lalu. Tololnya aku lebih sering memasukkannya ke dalam perasaan untuk kemudian dirindukan atau disesalkan, ketimbang menjadikannya sebagai pelajaran untuk kemudian direnungkan. Logikaku mendadak beku di hadapan masa lalu. Tak sanggup bergerak, hingga akhirnya masa lalu menyekap.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s