Kehampaan

Hal terberat dari melepaskan bukan sekedar soal kehilangan. Melainkan kesadaran akan kehampaan yang menggerayang. Perasaan yang dulu terisi, kini berdiam diri. Dalam sunyi, di tengah sepi, sendiri. Kehampaan ini pula yang menghilangkan selera untuk jatuh cinta. Bahkan untuk jatuh cinta kepada diri sendiri pun terasa utopia.

Banyak hal pergi untuk tak kembali. Memudar ditelan waktu, lalu menjadi kenangan yang memaksa untuk dirindu. Mungkin diri terlalu cepat menarik konklusi. Tapi logika hanya berpikir realistis, meskipun kehampaan ini terkait perasaan yang meringis. Hati sudah terlalu lelah mengejar khayal. Kemudian mengalah pada logika untuk menenggelamkan rasa yang semestinya sirna sejak lama.

Siapa yang salah? Rasanya tak ada yang patut disalahkan, karena kehampaan ini bukan tentang benar dan salah. Sekalipun mencari pembenaran untuk bisa menyalahkan, takdir tetaplah takdir. Sekuat apapun ikhtiar untuk merubah kenyataan yang ada, keputusan tetap di tangan Penulis takdir itu sendiri. Diri hanya dapat berencana dan berusaha. Lalu berjalan di atas benang waktu tanpa tahu apa langkah takdir selanjutnya. Entah berakhir dengan kejutan atau pecutan, diri ini tetaplah pecundang yang tenggelam dalam kehampaan.

 

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s