Merelakan

Sepahit apapun kopi, ia tak lebih pahit dari apa yang kerap kita hadapi. Bahwa ada kalanya, kita mesti merelakan sesuatu yang bahkan tak sempat kita miliki. Sesuatu yang nyata dan terlalu berharga. Sesuatu yang ada tapi terlalu sulit untuk menjadi tak ada. Tak ada dalam hati? Tak ada dalam pikiran? Ah, itu hanyalah angan. Ia selalu ada tanpa diminta. Selalu hadir tanpa permisi.

Merelakan merupakan perjalanan hidup tanpa akhir. Kita hanya dapat berusaha merelakan tanpa pernah benar-benar rela melepaskan. Hal yang membuat kita merelakan adalah keterpaksaan. Terpaksa demi menghadapi kenyataan. Terkerangkeng atas nama rencana Tuhan. Kita sebagai manusia akhirnya bertekuk lutut pada takdir. Tanpa sempat berdamai dengan pikiran, apalagi perasaan.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s