Kopi Hitam: Indah Tak Harus Cantik

Ia tampil bersahaja, apa adanya. Tak secantik cappuccino, latte ataupun macchiato yang secara estetika menjadi idaman para fotografer kuliner atau para instagrammer yang ingin eksis di dunia maya. Meskipun harus diakui sudah banyak wujud kopi hitam yang beredar di dunia maya. Tapi tetap saja penilaian subjektif banyak orang terhadap penampilan dirinya tak semenarik kopi-kopi dengan latte art di atasnya.

Ngomong-ngomong keindahan yang ditekankan di sini terkait hasil akhir kopinya, bukan prosesnya. Secara estetika, bagi saya penyeduhan dengan cara manual yang juara. Selain itu tak bisa ditampik bahwa tak semua kopi itu hitam, karena tak jarang hasil dari penyeduhan kopi berwarna seperti teh. Penyebutan kopi hitam di sini sekedar mewakili. Seperti istilah black coffee pada kedai-kedai kopi. Bila dikaitkan dengan istilah yang umum di tengah masyarakat pun, kopi yang hanya kopi disebut kopi hitam.

Keindahan di Balik Kesahajaan

Kesahajaan kopi hitam memberi pesan, bahwa indah tak melulu terkait penampilan yang cantik. Di balik kesahajaannya ia tetap mampu menarik penggemar. Para penggemar yang bukan memburu eksistensi kedai kopi, melainkan orisinalitas rasa yang melekat pada kopi itu sendiri. Menghirup aromanya yang semerbak, menyeruput dengan hikmat, lalu tenggelam dalam nikmat. Indah bukan!?

Keindahan kopi hitam yang sesungguhnya terletak pada saat kita menyeruputnya. Berbanding terbalik dengan latte art yang rusak ketika kita seruput. Toh kenyataannya kita memesan kopi untuk diminum bukan sekedar untuk dipandang atau dipotret dari berbagai arah. Lalu diunggah ke sosial media dengan ditemani hashtag ataupun di-tag ke akun-akun yang terkait kopi.

Pada dasarnya tak ada yang salah dengan latte art. Sebagai orang yang tertarik dengan dunia fotografi, saya sendiri menyukai dan menikmati foto-foto latte art yang cantik. Saya pun kagum kepada para barista yang mampu membuat latte art dengan apik. Latter art itu sendiri menjadi semacam pernyataan visual bahwa kopi tak melulu soal rasa dan aroma. Tapi saya tak bisa membohongi diri, kepada kopi hitamlah hati dan lidah saya tertambat.

Menyukai kopi dari negara atau daerah mana, memakai gula atau tidak, metode penyeduhan seperti apa, lebih memilih kopi hitam atau tidak, pada akhirnya pembicaraan kopi akan berujung pada selera. Kita tak bisa memaksa orang untuk menyukai kopi yang seperti apa. Sebagaimana kita tak bisa memaksa barista untuk membuat latte art di atas kopi tubruk.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s