Jejak

Aku tak merasa ini surat, bukan pula sajak. Sesungguhnya ini hanyalah rangkuman dari tulisanku yang berserakan. Anggap saja tulisan ini sebagai cinta yang menorehkan jejak. Jejak cinta dalam aksara. Aksara yang membeberkan rasa dalam dikotomi hati dan logika. Rasa cinta yang insya Allah karena Allah. Meskipun menurut Ibnu Qayyim, lemahnya manusia membuat manusia sulit membedakan antara cinta dan nafsu. Untuk itulah aku tak berani mengaku telah mencintai karena Allah. Melainkan aku hanya dapat berusaha mencintai di jalan-Nya dan berkata insya Allah.

Di dunia nyata maupun maya, banyak orang mengaku menjaga kesucian cinta melalui cinta dalam diam. Namun aku sebaliknya, diam dalam cinta. Diam yang bukan berarti tak bergerak. Diam yang bukan berarti tak berucap. Aku diam dari menuntut paksa. Aku diam dari menuntut rasa, karena rasa lebih dari sekedar tuntutan. Melainkan kepatutan. Patutkah ku memanifestasikan rasa? Patutkah ku memiliki atas nama cinta?

Konsekuensi logis dari mencintai adalah rasa ingin memiliki. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan pertanyaan pada banyak orang, apakah cinta harus memiliki atau tak harus memiliki? Bagiku pertanyaan ini tak relevan. Bahkan cenderung menjadi sebuah pemaksaan terhadap pilihan, karena cinta bukan soal kepemilikan. Cinta memang berhak memiliki. Namun cinta tetaplah sempurna meski tidak memiliki, karena cinta merupakan kesempurnaan cinta itu sendiri.

Teringat kalimat salah seorang khulafaur rasyidin, Umar bin Khattab. Beliau berkata, “Bila menikah hanya karena cinta, lalu di mana letak iman dan taqwa?”. Pada dasarnya tidaklah salah menikahi orang yang dicintai. Namun tak sepatutnya cinta yang dijadikan landasan utama dalam pernikahan. Justru sebaliknya pernikahan yang membangun cinta. Cinta yang karena-Nya dan di bawah naungan-Nya.

Sebagaimana kisah Ali dan Fatimah, sudah saling mencintai sebelum menikah. Namun baru menyadari saling mencintai setelah Allah persatukan dalam ikatan. Mereka diam dalam rasa cinta. Saling merahasiakan hingga akhirnya dipersatukan. Berkaca pada kisah ini, aku merasa malu karena tak sanggup seperti Ali. Hingga aku merasa tak pantas mendapat jodoh seperti Fatimah.

Sebelum kututup tulisan ini, aku ingin meminta maaf. Iya maaf, karena mencintaimu tanpa sebab. Maaf, karena kerap memikirkanmu hingga sembab. Mungkin sekilas cintaku tampak fatalis. Namun sesungguhnya aku hanya menjaga cinta agar tak terperosok ke dalam jebakan ibils. Allah menakdirkan kita bertemu meski tak bersatu. Untuk apa? Agar kutahu bahwa Allah telah menciptakan seorang wanita akhir zaman yang bahkan terlalu berharga untuk sekedar dipandang.

Wassalam . . .

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s