Tentang Rasa (Cinta)

Seringkali manusia baik sadar atau tanpa disadari terjerumus ke dalam asumsi rasa. Rasa bukanlah aksioma tanpa tanda tanya. Rasa seringkali membuat bertanya-tanya. Apakah rasa itu nyata? Apakah rasa adalah sesuatu yang biasa dalam kausalitas kehidupan? Ataukah rasa itu muncul karena sesuatu yang tak biasa? Lalu apa ukuran “tak biasa” itu? Mungkin tak ada jawaban pasti sebagaimana rasa tak punya ukuran pasti.

Rasa relatif dan fluktuatif. Rasa cinta, benci, rindu, sedih, bahagia tak memiliki barometer mutlak. Tak sama pula untuk setiap orang yang berbeda. Bahkan tidak sama pada orang yang sama dalam waktu, tempat dan peristiwa yang berbeda. Namun tak jarang rasa terjebak pada ambivalensi seperti cinta sekaligus benci dalam satu waktu yang dialami orang patah hati. Juga bahagia sekaligus sedih seperti ayah yang harus merelakan putrinya pergi jauh dari keluarga untuk mengikuti suami.

Berbagai macam peristiwa dapat menimbulkan rasa. Namun tak semua rasa dapat dijelaskan atau memiliki alasan. Salah satunya rasa cinta yang tidak membutuhkan “karena”. Cinta ya cinta, bukan cinta karena kecantikan atau ketampanan. Bukan cinta karena tahta dan kekayaan. Bila cinta karena cantik, bukankah banyak wanita cantik? Bila cinta karena harta dan tahta, bukankah banyak orang lain yang juga berharta dan bertahta? Bila cinta karena kelebihan, bukankah setiap manusia ditakdirkan memiliki kelebihan?

Beralasan & Tanpa Alasan

Rasa yang beralasan adalah rasa kekaguman bukan sepenuhnya cinta maupun sayang. Meskipun kekaguman tersebut yang pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta, tergantung bagaimana menyikapi kekaguman itu. Bila kekaguman terus berkembang dan melekat dalam ingatan juga perasaan, bukan tak mungkin cinta tumbuh.

Cintapun universal berlaku bagi siapa saja dan di mana saja. Namun kenyataannya rasa cinta dapat berlainan tergantung bentuk hubungan dan siapa yang merasakan. Cinta lelaki dan perempuan yang sedang dimabuk asmara tentu berbeda dengan cinta anak kepada ibu atau cinta ibu kepada anak. Juga tak sama dengan cinta manusia kepada Tuhan dan sebaliknya.

Seorang ibu mencintai anaknya, ia rela berkorban sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Seorang anak mencintai ibunya karena sang ibu telah banyak berkorban untuknya. Ibu berkorban karena cinta, anak cinta karena pengorbanan sang ibu. Contoh lainnya, Tuhan menganugerahkan nikmat-Nya karena Dia mencintai hamba-Nya. Manusia mencintai Tuhannya karena bersyukur atas limpahan nikmat-Nya. Tuhan melimpahkan nikmat karena cinta, manusia cinta karena diberi nikmat-Nya.

Rasa cinta dapat muncul dengan alasan, tanpa alasan, bahkan menjadi alasan. Cinta yang tanpa alasanpun pada prosesnya dapat berubah menjadi beralasan atau menjadi alasan. Bahkan alasan, tanpa alasan dan menjadi alasan, dapat menyatu dalam satu cinta. Entah muncul dengan salah satunya atau dua di antaranya. Mungkin pula ketiga-tiganya dapat muncul secara bersama.

Kemudian bisa dilihat ketika cinta yang tanpa alasan menghilangkan alasan untuk berpisah demi kemaslahatan. Sebagaimana orang yang berulang kali disakiti kekasihnya tapi tetap mempertahankannya. Tak peduli jika alasan membenci dan berpisah telah banyak terjadi. Inilah kondisi dimana cinta mengalahkan logika. Ketika cinta dibuat buta. Meski sebenarnya bertahan pada orang yang berulang kali menyakiti bukan lagi rasa cinta. Melainkan bentuk keputusasaan untuk keluar dari jeratan rasa.

Lain halnya ketika cinta yang beralasan berganti kebencian, manakala alasan membenci lebih besar dari alasan mencintai. Misal ketika seorang anak yang semula mencintai ayahnya, lalu berubah membenci sang ayah karena telah menyakiti ibunya. Begitu pula dengan seorang kekasih yang begitu benci ketika diselingkuhi. Pada dasarnya dalam kondisi ini rasa cinta masih ada. Tapi – sekali lagi –  alasan membenci lebih besar dari alasan mencintai sehingga benci yang menguasai.

Lalu bagaimana dengan cinta yang menjadi alasan? Jujur saja aku sendiri masih bimbang untuk menguraikannya, karena cinta yang menjadi alasan pada dasarnya timbul dari cinta yang tak beralasan juga beralasan. Sebagaimana cinta Tuhan kepada hamba-Nya, cinta Rasul kepada umatnya, serta cinta ibu kepada anaknya. Andaikan cinta berbentuk cahaya, maka ketiga cinta inilah yang paling terang cahayanya.

Pada akhirnya beralasan atau tanpa alasan, cinta tetaplah suci. Cinta tak menyakiti karena tergantung bagaimana manusia menyikapi. Lagipula rasa cinta adalah fitrah, telah hadir dalam diri manusia bahkan sebelum alasan mencintai ada. Alasan yang mendasari cinta hanyalah sebab rasional yang semakin menumbuhkan rasa cinta yang sebelumnya memang sudah ada. Seperti cinta anak karena pengorbanan ibunya. Juga cinta manusia karena nikmat Tuhannya.

Kemudian satu pertanyaan terakhir,

“Bila cinta dapat muncul tanpa alasan, dapatkah cinta bertahan tanpa alasan?”
— Aksara Nomaden

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s