Hamil Di Luar Nikah

Zaman edan seperti sekarang, rasanya sudah tak asing mendengar orang hamil sebelum menikah. Entah itu karena pemerkosaan ataupun suka sama suka. Hal yang ingin ditekankan di sini adalah kehamilan dalam hubungan suka sama suka yang banyak mendakwa pihak lelaki. Sebenarnya kehamilan di luar nikah bukanlah kesalahan pihak lelaki sepenuhnya. Perempuanpun ikut bersalah. Toh, bukankah Tuhan sudah memberi peringatan “Jangan dekati zina!”.

Dalam pandangan mayoritas masyarakat terkait kasus kehamilan sebelum menikah, pihak lelaki seringkali diposisikan sebagai tersangka. Padahal bisa saja proses perzinahan terjadi atas dasar suka sama suka. Ketika si perempuan rela bersetubuh dengan lelaki, maka konsekuensi dari perzinahan itu ditanggung oleh keduanya. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa yang paling dirugikan akibat perzinahan adalah pihak perempuan.

Mengandung cabang bayi di luar nikah adalah beban yang teramat berat. Nama keluarga tercoreng,  frustasi, bunuh diri atau melakukan aborsi. Terlebih di tengah masyarakat yang masih memegang erat agama maupun norma. Bahkan pada sebagian masyarakat berpaham sekuler yang sangat bebaspun, kehamilan di luar nikah adalah aib meskipun seks bebas adalah hal lazim yang dilakukan.

Kemudian, tak sedikit orang yang hamil lalu menikah. Istilah yang sering disebut adalah married by accident (MBA). Mirisnya kalau pernikahan ini hanya dijadikan ajang untuk menutup aib di mata masyarakat. Seakan-akan kesalahannya dapat ditebus hanya dengan pernikahan. Padahal bukanlah pernikahan yang dapat menghapus kesalahan. Melainkan pertaubatan. Kecuali kalau memang sebelumnya sudah bertaubat dengan penuh penyesalan.

Lelaki dan perempuan dituntut sama-sama menjaga kehormatan. Namun, jika ada perempuan yang hamil karena perzinahan, rasanya kurang layak menobatkannya sebagai korban. Kalaupun dirinya merasa dirugikan atau terlihat menjadi korban, maka dia adalah korban dari nafsunya sendiri. Korban sesungguhnya dari kehamilan di luar nikah atas dasar suka sama suka bukanlah pihak perempuan apalagi pihak lelaki. Melainkan cabang bayi yang dikandung. Apalagi kalau sampai diaborsi atau dibuang. Tercipta dari hasil perzinahan, mati dengan pembunuhan. Kasihan!

Di sisi lain, jika pihak lelaki berniat menikahi perempuan yang dihamili ya silahkan. Tapi tak perlu merasa telah menjadi lelaki yang bertanggung jawab, karena beban dan tanggung jawab secara moral tak dapat tuntas dengan hanya pernikahan. Memang salah satu pilihan yang dianggap baik dalam mempertanggung jawabkan kehamilan adalah pernikahan. Tapi tak lantas menjadikan pernikahan itu sebagai pembenaran atas kehamilan di luar nikah. Karena yang benar itu hamil setelah menikah, bukan menikah setelah hamil.

Tanggung jawab lelaki terhadap perempuan memang banyak. Bukan perkara menikahi saja. Tapi ini dapat dijadikan tolak ukur. Jika menjaga kehormatan perempuan yang begitu berharga saja tidak bisa, bagaimana mungkin lelaki tersebut dapat menjaga si perempuan dengan baik pada berbagai aspek lainnya. Walaupun hal ini bersifat relatif. Kalau si lelaki memperbaiki diri? Wallahu a’lam, doakan  yang terbaik.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

4 thoughts on “Hamil Di Luar Nikah”

  1. ” Jika menjaga kehormatan perempuan yang begitu berharga saja tidak bisa, bagaimana mungkin lelaki tersebut dapat menjaga si perempuan dengan baik pada berbagai aspek lainnya. ”

    Saya sependapat!

    1. Sedihnya kalau ada lelaki yg bangga seperti itu. Apalagi dr pihak perempuan sendiri, berkembangnya pemikiran bahwa keperawanan di jaman sekarang bukan lg hal yg penting utk dijaga turut meningkatkan seks bebas dan resiko kehamilan di luar nikah.

      Meskipun ga semua berpemikiran seperti itu. Tapi arahnya sudah mulai terasa.

  2. Kalau hamil karena diperkosa mungkin gak terlalu menjadi sorotan dan kesalahan biasanya diletakkan di pundak sipemerkosa. Lha, kalo suka sama suka?
    Sebaiknya kesalahan itu adalah tanggungjawab bersama.

    Apapun kalo hamil diluar nikah jelas aib. Kalo ada yang bangga hamil duluar nikah mungkin budaya dan cara pendidikannya ala barat, diatas umur 18 tahun sudah dewasa dan lu bisa berbuat sesukanya.

    Sebagai orang timur saya setuju sekali kalo hamil itu, ya, setelah sah jadi suami istri. Karena itulah salah satu ciri beradab orang timur. Agama sudah memberikan tuntunan yang benar.

    1. Iyap, tanggungjawab bersama.

      Tanpa perlu melihat budaya barat atau timur, sebenarnya manusia bisa menilai melalui rasio dengan melihat mudharat yg dapat ditimbulkan.

      Sekalipun itu jadi budaya, tak dapat merubah kehamilan di luar nikah maupun seks bebas sebagai hal yg benar. Karena manusia memiliki akal & nurani untuk menilai, sekalipun tak bertuhan. Terlebih bagi orang yg beragama.

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s