Entitas Fana

Apakah aku benar-benar nyata? Apakah aku sungguh ada? Satu hal yang pasti, aku hanyalah makhluk fana yang pasti menemui ajal. Aku memandangi secara dalam diriku & tempatku berada. Diiringi pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepala. Siapa aku? Apa sesungguhnya diriku? Untuk apa aku ada? Mengapa aku ada di dunia? Bahkan aku tak tahu mengapa dunia ada. Oh ya, aku harus bertanya kepada Tuhan. Meski jawaban Tuhan tak selalu terang. Bahkan terkadang gelap atau menunggu waktu yang tepat.

Tuhan berkata dalam surah Adz-Dzariyat bahwa ia menciptakan jin dan manusia untuk beribadah. Namun ibadah tak sekedar ritual seperti sholat, puasa, zakat dan pergi ke tanah suci. Bukankah senyum juga ibadah? Bahkan segala kebaikan yang niatnya disandarkan kepada Tuhan akan bernilai ibadah pula. Selama tak bertentangan dengan larangan-Nya. Ibadah dapat berbentuk ritual penyembahan dan penghambaan pada Tuhan juga berbentuk kepedulian atas nama kemanusiaan.

Lalu pertanyaan berikutnya untuk apa ibadah dalam konteks penyembahan Tuhan? Pasti ada alasan di balik penyembahan, bukan sekedar perintah dari postulat suci. Lagipula bukankah Tuhan tetap hidup meski tak disembah? Bukankah Tuhan tetap berkuasa meski tak disembah? Oh ya manusia yang butuh menyembah Tuhan. Tuhan adalah asal dari segala hal di dunia ini termasuk manusia. Sesuatu hal pada dasarnya akan lebih nyaman dan tentram bila berdekatan dengan asalnya.

Manusia bisa dekat ke “asalnya” sebelum menemui ajal. Ibadah yang dilandaskan niat hanya karena-Nya menjadi media pendekatan ke “asal” itu. Tuhan menyapa, mengajak manusia beristirahat sejenak dari rutinitas dunia yang melelahkan dan melenakan. Memberikan ketenangan dan kesejukan. Tak hanya melalui ritual, Tuhan juga mengajak berkomunikasi melalui ilham yang dicurahkan ke dalam benak dan pikiran. Serta hikmah yang ditampakkan melalui berbagai kejadian.

Tak jarang berbicara pada Tuhan lebih mudah dibanding berbicara pada diri sendiri. Namun tak semua manusia mau berbicara dengan-Nya. Bahkan tidak sedikit yang tak percaya dengan eksistensi-Nya. Setiap manusia bebas menuhankan pilihannya. Ada yang menuhankan akalnya, ada yang menuhankan Tuhannya dan ada yang menuhankan dirinya. Bahkan Nietzsche yang atheis bermetafora dengan mengaku telah membunuh Tuhan. Kenyataannya hari ini Nietzsche telah mati. Tuhan yang membunuhnya? Tidak. Kematiannya bukanlah pembunuhan, melainkan kepastian.

Sebagaimana dengan nietzsche, akupun pasti mati. Kita dan semua makhluk di dunia. Konsekuensi logis dari adanya kehidupan adalah kematian. Siap tak siap, mau tak mau, pasti akan menghadapinya. Malaikat maut datang tak memandang kesiapan si calon jenazah. Bahkan banyak jiwa yang telah pergi tanpa mengerti apa itu mati. Kini dengan berjalannya waktu, setiap helaan nafas semakin mendekat pada maut. Lalu, kapan detak jantung kita berhenti?

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s