Bulan Ke Dua Belas

Desember . . .
Kau datang lalu menghilang
Membawa jejak masa lalu
Mengulangnya di lain waktu
— Aksara Nomaden

Desember. Bulan yang selalu menarik. Sangat menarik. Di bulan ini banyak hari besar terjadi. Waktu di mana hari AIDS sedunia diperingati. Perayaan hari raya Natal bagi umat kristiani. Peringatan hari Ibu bagi wanita-wanita tangguh yang memiliki buah hati. Juga menjadi penghujung tahun yang menjadi momen berharga bagi sebagian karyawan untuk berlibur panjang.

Desember. Bulan yang menjadi penutup di setiap tahun. Sekaligus penyambut kedatangan tahun yang baru. Bulan ke dua belas ini terasa berbeda bagiku. Diri kecilku pertama kali hadir ke dunia di bulan terakhir ini. Bertepatan pula dengan kelahiran blogku ini yang sama tanpa kesengajaan. Hanya berbeda beberapa hari dari tanggal kelahiranku. Di bulan ini aku lahir ke dunia. Di bulan ini pula Aksara Nomaden hadir di dunia maya.

Blog Kecilku

Blog ini memang tak seramai blog-blog lainnya. Tulisannya tak lebih spesial dari rujak sambal. Apalagi penulisnya yang masih muda dan harus banyak belajar. Memang banyak catatanku yang terkesan idealis. Meskipun terkadang kuberi bumbu populis. Bagi yang mengikuti dengan baik catatan-catatanku pasti sudah hafal dengan gaya tulisanku. Meskipun aku sendiri bertanya-tanya, pantaskah tulisanku diikuti untuk dinikmati? Entahlah.

Tulisan bertema cinta, Islam maupun kerinduan berserakan dalam Aksara Nomaden. Coretan-coretan yang merefleksikan perasaan dan pemikiranku. Walaupun tak merefleksikannya secara utuh, karena dalamnya perasaan dan pemikiranku hanya Tuhan yang tahu. Tapi tak semua tulisan bersumber dari diriku pribadi. Ada kalanya juga ku menulis yang terkait dengan pengalaman orang lain atau kehidupan di sekitar.

Aku tak pandai menulis, hanya menumpahkan hasratku dalam merangkai kata. Aku juga bukan anak sastra apalagi seorang pujangga. Tulisan-tulisanku hanyalah serpihan dari jiwa-jiwa yang terperangkap fana. Hanya segelintir orang yang menikmatinya. Apalagi dengan jumlah view dan followerku yang tak seberapa. Lagipula itu bukan masalah bagiku. Di sisi lain ada beberapa teman blog yang aku sukai coretannya hingga membuatku tertarik untuk bertemu di kehidupan nyata. Mungkin suatu saat nanti jika waktu yang tepat tiba.

Kini usia blogku mencapai satu tahun. Banyak hal yang kudapat dari perjalanan blog ini. Kawan dunia maya baru, catatan-catatan menarik serta pandangan-pandangan baru. Selain itu, menumpahkan tulisan di sini memberikan kepuasan batin tersendiri. Meskipun hanya berupa opini dan aku sendiri tidak sering memposting tulisan. Akupun tak berharap tulisanku dapat diterima, aku hanya berharap tulisanku dapat memberi warna.

Bulan Kelahiran Bukan Perayaan

Aku dilahirkan di bulan penghujung tahun. Merasa spesial? Tidak juga. Hari kelahiran memang terasa spesial, tapi kapanpun aku lahir bukan hal yang spesial bagiku. Bulan dan tanggal menunjukkan waktu kelahiran bukan kespesialan. Toh tiap tahun diriku akan terus bertemu dengan bulan kelahiranku ini. Hingga akhirnya maut menjemput. Lalu apa yang mesti dirayakan dengan hari yang pasti terulang dan mendekati kematian?

Secara pribadi aku kurang tertarik dengan perayaan hari kelahiran yang lebih familiar disebut ulang tahun. Mulai tahun ini, aku menghindari segala bentuk ucapannya – meskipun belum tahu apakah keputusan ini akan berlanjut atau tidak hingga beberapa tahun mendatang. Beberapa social media dan messenger aku non-aktifkan untuk sementara waktu. Mungkin terlihat berlebihan, tapi itu sudah menjadi keputusanku.

Sikapku ini bukan soal perkara bahwa ulang tahun itu bid’ah, kufur atau semacamnya. Ini pandangan pribadiku, tak ada sangkut pautnya dengan norma maupun agama. Buatku tak logis merayakan hari yang mengingatkan kesalahan dan kematian. Jujur saja ucapan “Happy birthday”, “Selamat hari lahir” dan sebagainya kadang kala menambah tekanan pada diriku. Dalam usiaku yang semakin menua hal apa saja yang telah kuperbuat? Kesalahan apa saja yang menuntuku untuk bertaubat? Bukan tak mungkin usia yang kunikmati selama ini kusia-siakan begitu saja.

Aku mengingat-ingat selama ini apa yang telah aku lakukan dan berikan. Apa yang telah aku sumbangsihkan kepada orang-orang di sekitarku. Khususnya kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Belum lagi aku menyadari bertambah tuanya diriku menandakan semakin dekat diriku pada kematian. Meskipun mengingat kematian tak mesti ketika pada hari kelahiran.

Aku tahu perbedaan sikapku dengan orang-orang dalam menyikapi hari kelahiran ini terletak pada bagaimana memandangnya. Aku tak merasa diriku paling benar. Aku hanya meyakini bahwa inilah yang benar bagiku. Bila ada yang memberiku ucapan, makanan atau hadiah, aku menghargainya. Aku anggap itu sebagai bentuk perhatian. Kalau tak ada yang memberikan apapun, lebih baik bagiku karena tak ada yang perlu direpotkan.

Di usiaku yang semakin menua ini aku sangat bersyukur dan berterima kasih, khususnya kepada Tuhan yang telah banyak memberi kenikmatan dan mengingatkan. Juga kepada kedua orang tuaku yang sungguh membuatku bingung bagaimana membalas jasa-jasa mereka berdua. Untuk kawan-kawan yang telah memberi warna dalam kehidupanku. Juga kepada para kawan dunia maya yang telah membaca tulisan ini maupun yang setia mengikuti blogku.

Jazakumullah khairan katsiran.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s