Dekapan Ketidakpastian

Tak bernyawa namun hidup
Tak berjari namun menyentuh
Tak berlidah namun berbicara
Tak bermata namun menatap
Tak bertelinga namun mendengar
Tak berjantung namun berdetak
Cinta, mempesona tanpa daksa
— Aksara Nomaden, Pesona Tanpa Daksa

Cinta merupakan perkara tak pasti yang menjelma menjadi tirani suci. Lalu membentuk spekulasi imajiner yang tak bertepi. Melambungkan imajinasi hingga mengaburkan batas antara kenyataan dan khayalan. Cinta, realita yang berakulturasi dengan ilusi. Memiliki rasa yang tak mudah dijabarkan. Berbeda rasa pada tiap rabaan makhluk Tuhan.

Ketika cinta diucapkan, belum tentu ia dirasakan. Ketika cinta dirasakan, bahkan tak jarang lidah kelu tak sanggup untuk berucap. Tak ada rasa yang lebih terasa selain cinta. Tak ada yang melebihi manisnya, tak ada pula yang melebihi pahitnya. Manis dan pahit menyatu di dalamnya, karena cinta penuh dinamika. Bukan sekedar untaian akasara yang melenakan jiwa.

Cinta memang kerapkali melenakan jiwa. Meninabobokan hingga jiwa hanyut terbawa arus rayuannya. Cinta merayu dengan keindahan dan khayalan. Tak peduli sang jiwa bersama ataupun sendiri. Tak pandang bulu sang jiwa penuh kebejatan atau ketaatan. Tak memikirkan apakah rayuannya akan berakhir dengan kesengsaraan atau kebahagiaan. Cinta hanya tahu bahwa ia memberi pilihan bukan kepastian.

Cinta memberi pilihan, manusia yang menentukan. Cinta memberi harapan, manusia yang mewujudkan. Cinta menimbulkan pertanyaan, manusia yang mencari jawaban. Cinta memberi tantangan, manusia yang menyelesaikan. Cinta menciptakan kebimbangan, manusia yang meyakinkan. Cinta berisi ketidakpastian, manusia yang memastikan.

Cinta dan manusia saling melengkapi. Meskipun keduanya bukanlah perlengkapan. Manusia membutuhkan cinta, meski cinta lebih dari sekedar kebutuhan. Cinta akan tetap ada walaupun manusia pasti tiada. Manusia akan tiada meninggalkan jejak cinta yang ditorehkannya. Meskipun cinta akan tetap ada baik ditorehkan ataupun tidak.

Melalui ketidakpastiannya, cinta yang ditorehkan mampu membuat rasa menjadi lebih nyata dari realita. Ketika realita dikalahkan oleh rasa. Ketika logika tunduk pada rasa. Maka cinta telah berkuasa. Memang cinta bukanlah penguasa, tapi banyak penguasa yang tunduk padanya. Apalagi diriku yang bukan siapa-siapa. Tak berkutik aku didekapnya hingga membuatku berbalik mendekap dekapannya. Dekapan yang menerangiku dalam kegelapan. Menemaniku dalam kesendirian. Menghanyutkanku dalam kesunyian.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

2 thoughts on “Dekapan Ketidakpastian”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s