Mencintai Kenangan Dalam Benci

Sesak tak sekedar sesak
Menahan malu ternyata lebih mudah dari menahan rindu
Masa silam menjerat kalbu yang tak henti menunggu
Menanti bayang pudar dihapus waktu
Namun tak ada kompromi untuk waktu menjeda hati
Waktu terus berlari meninggalkan diri terjebak sepi
Ditemani angan yang takkan mungkin dipegang
Berharap melayang ke masa yang tinggal kenangan
— Aksara Nomaden, Terjerat Rindu

Aku mencintai kenangan sebagaimana aku membencinya. Mungkin bisa dikatakan aku mencintainya dalam benci. Aku mencintai kenangan karena di sana ada orang-orang yang kucintai. Aku membencinya karena tak mungkin aku mengulangnya. Memang berkontradiksi antara cinta dan benci. Tapi itulah yang kurasakan saat kenangan datang menyayat hati. Tak peduli kenangan indah atau penuh bedebah. Tak peduli kenangan manis atau peristiwa tragis. Kenangan itu menghujam, menyeret sambil menusuk-nusuk pikiran dan hati.

Ingin kubunuh kenangan lalu melempar mayatnya ke lautan. Membiarkannya terombang-ambing di tengah gelombang atau dimakan predator agar tak kembali pulang. Tapi itu semua hanya khayalan. Tak mungkin ku membunuhnya, karena ia tak mungkin terbunuh. Justru diriku yang perlahan dibunuhnya. Ia membuatku terjebak di masa lampau. Ragaku bergerak mengarungi waktu, namun pikiranku terpenjara di masa lalu. Ingin sekali ku menghindarinya, tapi itu angan semata.

Menghindari kenangan itu tak mungkin, tidak menciptakan kenangan adalah kemustahilan. Segala hal yang dilalui dalam ruang dan waktu menjadi catatan sejarah yang akan dikenang. Kerapkali aku tak ingin berbuat apapun. Meskipun berbuat yang membawa nikmat atau kebahagiaan yang memuncak. Aku sadar segala hal yang kulakukan akan menjadi kenangan lalu memaksaku untuk merindukannya.

Mungkin banyak dari kita yang pernah mendengar bahwa obat rindu adalah bertemu. Kalau begitu tolong jelaskan padaku bagaimana caranya bertemu dengan masa lalu? Bagaimana caranya ku mengulang masa kecilku? Aku merasa dipermainkan. Aku dipaksa merindukan masa lalu namun mustahil untuk mengulangnya kembali. Betapa kejamnya kenangan, ia datang dan pergi sesuka hati. Menampar pikiran dengan cerita-cerita lalu untuk kemudian ditembakkan ke dada hingga hati merasa tersiksa.

Dalam kesendirianku kenangan menghampiri. Dalam kesibukanku ia masih tetap datang menghujam dan tak kunjung pergi. Apa aku harus amnesia untuk melupakannya? Apa aku mesti hilang ingatan untuk menghindarinya? Tapi aku ingin terus menyimpannya dan berada dalam dekapannya. Aku tak mau melupakan orang-orang sekaligus peristiwa di masa lalu. Meskipun sejujurnya aku lebih merindukan apa yang telah terjadi daripada orang-orang yang terlibat datang dan pergi. Begitu banyak yang kurindukan, namun tak satupun dapat terulang . . .

“Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia”
— Aksara Nomaden

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

4 thoughts on “Mencintai Kenangan Dalam Benci”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s