Aku Adalah Aku

Aku adalah aku . . .
Aku bukan malaikat yang selalu taat dan terhindar dari maksiat. Aku bukan Rasul yang maksum dan mendapatkan mukjizat. Aku bukanlah Socrates yang memaksimalkan akalnya dalam berfilsafat. Aku bukan Ibnu Batutah yang telah menjelajahi bumi. Aku bukan Khalil Gibran yang pandai menghipnotis dengan rangkaian kata. Aku bukan Ibnu Qayyim yang ahli memurnikan cinta untuk Sang Pencipta.

Aku adalah aku . . .
Aku memang seorang pemuda, tapi aku tak seperti kebanyakan pemuda lainnya. Banyak pemuda yang melakukan berbagai cara mengejar perempuan dambaannya. Mendekati perempuan yang didamba dengan bercengkrama empat mata, mengajaknya bepergian untuk menghabiskan waktu berdua atau membelikan sesuatu yang sangat disenanginya. Lalu mengajaknya menjalin hubungan yang jauh dari keseriusan. Aku tak seperti itu. Aku tak melakukan itu.

Aku adalah aku . . .
Aku memiliki caraku sendiri dalam mencintai dan bagaimana memperlakukan wanita yang kucintai. Aku tak ingin semakin dekat dengan wanita yang kupuji namun semakin jauh dari Tuhan Yang kupuja. Cinta berasal dari Ilahi maka tak mungkin aku meninggalkan-Nya pergi. Cinta yang kuletakkan dan kujaga untuknya takkan mungkin ada tanpa kuasa-Nya. Meski seringkali justru cinta yang meletakkanku dalam takdirnya dan menjagaku dari nafsu yang mendusta.

Aku adalah aku . . .
Aku tak ingin mendekati raganya namun hatinya pergi menjauh. Aku tak ingin memilikinya namun ia tak memilikiku. Meskipun aku belum mengerti apa hakikat dari memiliki. Aku hanya memahami bahwa cinta bukan soal kepemilikan. Mungkin cinta dapat bersemi ketika telah memiliki. Namun aku takut cinta menghilang diganti perasaan berkuasa akan kepemilikan. Meskipun aku sadar bahwa kasmaran tanpa berujung ikatan adalah gerbang kenikmatan yang penuh siksaan.

Aku adalah aku . . .
Aku bukan dia, mereka atau siapapun juga. Hanya Tuhan yang paling mengenal siapa diriku. Bahkan melebihi pengetahuanku akan jati diriku. Aku memiliki pikiran, pandangan dan perasaan. Pikiran yang tak henti menggambarkan parasnya. Pandangan yang tertegun dan tertunduk ketika dihadapannya. Perasaan yang bergetar ketika berceloteh dengannya. Apakah ia tahu? Ah aku tak berharap ia tahu. Bahkan ia tak tahu siapa aku dan aku masih mencari tahu siapa sesungguhnya diriku.

“Aku adalah kunang-kunang.
Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang.
Dan jadilah kau senja. karena gelap kau ada,
Karena gelap kau indah.
Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja.
Saat gelap kita berbagi.
Saat gelap kita abadi…”
— Moammar Emka

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s