Menuhankan Kebebasan

Berbeda antara manusia dan hewan
Manusia bebas dengan akalnya
Hewan bebas dengan nalurinya
Untuk apa berakal tapi tak tahu yang benar?
Untuk apa berakal tapi tak mau belajar?
Belajar membedakan benar dan salah
Belajar melakukan kebenaran bukan pembenaran
Berakal untuk membenarkan yang benar
Bukan pembenaran terhadap kekeliruan
Jangan menajamkan lidah tapi akal tak terasah
Menyesatkan logika dengan pendistorsian makna
Hingga akhirnya akal bertanya-tanya
Siapakah kita hingga merasa bebas melawan Sang Pencipta?
— Aksara Nomaden, Tuhan & Kebebasan

Kebebasan (Liberty) adalah hak bagi seluruh makhluk terutama manusia. Baik dalam persoalan agama, sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya. Meskipun pada hakikatnya tak ada manusia yang benar-benar bebas. Sebebas apapun manusia takkan mungkin bebas dari tidak bernafas. Manusia takkan bebas untuk tidak makan dan minum. Manusia takkan bebas dari tidur. Manusia takkan bebas dari kematian. Bahkan manusia takkan bebas dari kebebasan itu sendiri.

Kebebasan Berujung Kezaliman

Kebebasan seringkali dijadikan pandangan dan landasan hidup oleh sebagian orang. Tak sedikit pula orang yang lebih berorientasi pada kebebasan dibanding kebenaran. Bahkan kebenaran sendiri tak dibebaskan karena dianggap menghambat kebebasan. Lalu munculah gagasan-gagasan yang meneriakkan kebebasan sebagaimana kebebasan di barat. Orang bebas untuk berzina, mabuk-mabukkan, hingga menghina nabi.

Orang-orang yang mengusung kebebasan ala barat sejatinya tidak benar-benar bebas pula. Mereka tidak bebas dari nilai-nilai barat dan pandangan hidup barat yang kental dengan paham liberalisme, sekulerisme bahkan nihilisme. Kalaupun kebebasan yang diusung mengatasnamakan hak asasi manusia, hakikatnya mereka tak memberikan kebebasan baru tetapi meng-copy paste nilai kebebasan ala barat untuk ditiru.

Sebenarnya tak masalah meniru apa yang berasal dari barat selama itu tak keliru. Tapi kenyataannya yang kerapkali diimpor justru budaya negatif yang menyebabkan degradasi moral di barat itu sendiri. Mereka berucap bahwa mereka memperjuangkan kebebasan. Namun sejatinya mereka membelenggu kebebasan yang telah ada dengan kebebasan yang berlandaskan nafsu.

Kebebasan yang berlandaskan nafsu itupun justru akan mengekang kebebasan orang-orang yang patuh dan taat terhadap agama dan norma. Misalkan, di Indonesia setiap warga bebas beragama sesuai kepercayaan masing-masing. Namun ketika umat beragama dibebaskan untuk tidak patuh terhadap aturan agama, justru mengekang kebebasan umat yang patuh terhadap aturan agamanya.

Dalam Islam umat diseru berdakwah untuk mengajak sesama muslim agar patuh terhadap aturan agama. Berdakwah itu sendiri merupakan salah satu bentuk kepatuhan. Jika setiap muslim diberi kebebasan untuk tidak patuh terhadap agama, maka berdakwah akan dianggap melanggar kebebasan. Implikasinya orang yang patuh terhadap aturan agama menjadi tidak bebas untuk berdakwah. Maka kebebasan yang ada bersifat timpang. Di satu sisi membebaskan ketidakpatuhan di lain sisi malah mengekang kepatuhan.

Banyak contoh kebebasan lainnya yang justru tak membebaskan, malah melahirkan kezaliman. Di antaranya saat kaum perempuan diberi kebebasan untuk berpakaian seksi, kaum lelaki tak lagi bebas untuk menjaga mata dan pikiran. Ketika poligami dicaci-maki dan prostitusi dilegalisasi, para mucikari semakin bebas memperdagangkan perempuan dan lelaki hidung belang semakin senang.

Belum lagi pelecehan terhadap agama yang kerapkali mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Mulai dari film The Last Temptation of Christ, Fitna, Innocence of Muslims, hingga karikatur nabi Muhammad SAW. Bila suatu keyakinan saja dilecehkan, bukan tak mungkin pelecehan tersebut akan menjalar kepada orang yang memegang keyakinan.

Banyak yang meyakini kebebasan lebih dari meyakini keyakinan. Bahkan ketika Tuhan tak lagi dianggap membebaskan, maka kebebasan itulah yang dituhankan. Jika yang terjadi demikian maka manusia tak lebih berharga dari kebebasan itu sendiri. Kebebasan yang dipersepsikan sebagai hak, pada akhirnya melahirkan kezaliman yang merusak.

“Logika kebebasan individu — asal tidak merugikan orang lain ini telah menjebak Barat dan masyarakat sekular lainnya untuk menerapkan hukum yang berdasarkan pada ‘hak individu’, seperti dalam kasus hukum zina. Jika zina dihalalkan oleh masyarakat dan negara, lalu apa logikanya negara mau mengharamkan homoseksual?”
— Adian Husaini

Kebebasan Tanpa Tuhan

Manusia sesungguhnya takkan bebas dari kehendak Tuhan dan aturan agama. Bahkan manusia yang tak menuhankan Tuhan takkan bebas dari kehendak akal yang ia tuhankan. Manusia tak beragamapun takkan bebas dari aturan di luar agama. Ketika manusia membebaskan diri dari aturan Tuhan dan agama (sekalipun dirinya ber-Tuhan dan beragama) sejatinya ia tidaklah membebaskan diri seutuhnya. Tetapi hanya mengganti kebebasan yang Tuhan berikan dengan kebebasan yang manusia inginkan.

Tuhan memberikan kebebasan dengan batasan-batasan karena Ia tahu mana yang baik dan buruk bagi ciptaan-Nya. Namun sejumlah manusia menganggap batasan itu berupa pengekangan meski hakikatnya batasan itu berupa pengarahan dan perlindungan. Semestinya manusia menyadari memang sudah sewajarnya kebebasan memiliki batasan, karena manusia itu sendiri memiliki banyak keterbatasan.

Manusia memang bisa merasa bebas dari aturan Tuhan, tapi tak mungkin terbebas dari aturan manusia. Bahkan manusia hakikatnya takkan terlepas dari kehendak Tuhan meski ia menafikkannya. Bukankah rejeki, jodoh dan mati Tuhan yang tentukan? Manusia takkan mungkin menghindarinya. Jadi untuk apa membebaskan diri dari aturan Tuhan sementara kita tak terbebas dari kehendak-Nya.

Dalam islam manusia diberi kebebasan. Tetapi kebebasan dalam berbuat benar dan membenarkan yang benar. Bukan bebas bertelanjang layaknya binatang, mendistorsi kandungan Al-Qur’an, mencaci maki atas nama kebebasan berekspresi. Bukan pula bebas “membunuh” Tuhan atas nama kebebasan akal.

Kebebasan untuk dilaksanakan bukan diselewengkan. Kebebasan membebaskan manusia untuk berbuat baik, bukan bebas merusak moral lalu menutup mata seolah-olah itu hal yang baik. Tuhan memberikan kebebasan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tapi mirisnya kebebasanlah yang justru dituhankan lalu Tuhan dipinggirkan atas nama kebebasan.

“Segelintir manusia berteriak lantang soal kebebasan berpikir, berpendapat dan berekspresi. Namun dimana teriakan lantang itu ketika manusia tak terbebas dari kerusakan moral?”
— Aksara Nomaden

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s