Cinta, Pacaran & Kezaliman

“Cinta itu serius, pacaran itu tak serius. Pantaskah menempatkan hal serius pada hubungan yang tak serius?”
— Aksara Nomaden

Pernyataan dan pertanyaan di atas anggap saja sebagai perangsang untuk berpikir. Memang ada sebagian orang yang kurang srek ketika membicarakan cinta tapi diajak berpikir, karena cinta soal perasaan bukan pikiran. Namun perasaan tanpa pikiran akan membuat seseorang bertindak seperti orang mabuk. Berbuat sesuka hati tanpa peduli untung dan rugi, dinasehati berbalik mencaci maki, diberi wejangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Cinta seperti alcohol yang memabukkan jika takarannya berlebihan. Namun cinta bukanlah barang haram selama tak menerobos aturan Allah. Cinta yang halal begitu manusia idamkan, tapi cinta yang haram justru banyak yang dijadikan pilihan. Apalagi tak sedikit yang mengaku mencintai karena Allah tetapi menjalin cinta dengan cara yang tak diridhai-Nya.

Sebelum melanjutkan bacaan aku sarankan kepada kawan untuk membaca tiga tulisanku sebelumnya yang berjudul Cinta Hanya Memiliki Cinta, Lika-liku Cinta dan Tanpa Mantan & Pacaran. Agar kawan dapat lebih memahami tulisanku di bawah ini. Selamat menikmati dan semoga tak sakit hati.

Cinta Bukan Pacaran

Cinta dan pacaran adalah dua hal yang berbeda. Cinta telah hadir di dunia bahkan jauh sebelum aktivitas pacaran itu ada. Cinta akan tetap berjalan meski aktivitas pacaran dibumihanguskan. Cinta tetaplah suci meski pacaran dicaci maki. Cinta tetaplah sempurna meski pacaran dianggap hina. Cinta tanpa pacaran, cinta tetap bernafas. Pacaran tanpa cinta, menjadi mantan layaknya barang bekas.

Tak sedikit orang mengaku jatuh cinta lalu berpacaran. Kemudian menyalahkan cinta ketika hati disakiti. Sejatinya cinta tidak menyakiti melainkan hubungan pacaran yang hakikatnya penuh ironi. Cinta kerap disalahkan meski ia bukan kesalahan. Pacaran sering dibenarkan meski ia bukan kebenaran. Salah benar menjadi buram manakala cinta dibutakan. Cinta dibutakan karena sejatinya cinta tak pernah buta. Manusia membutakannya karena keinginan yang melampaui kenyataan dan bertentangan dengan larangan.

“Tak jarang cinta dikambinghitamkan sebagai penyebab sakitnya hati. Mudah manusia mengatakan bahwa cinta menyebabkan sakit hati. Namun sulit untuk memahami bahwa cinta tak pernah menyakiti. Manusia patah hati bukan karena cinta menyakiti tapi cinta yang tersakiti membuat hati ikut merasa perih.”
— Aksara Nomaden, Cinta Hanya Memiliki Cinta

Bukan Memiliki

Sebagaimana yang pernah kuutarakan dalam Cinta Hanya Memiliki Cinta dan Lika-liku Cinta, bahwa cinta bukanlah soal kepemilikan. Segilintir orang berpendapat bahwa cinta harus memiliki, tapi kenyataannya pacaran yang harus memiliki. Meskipun dengan pacaran takkan mungkin memiliki seutuhnya. Kemudian pertanyaannya apa yang dimaksud dengan memiliki? Apakah dengan berpacaran sudah pasti memiliki?

Memiliki raganya belum tentu memiliki hatinya. Memiliki hatinya tak berarti memiliki cintanya. Bagaimana jika memiliki cintanya? Mana mungkin cinta ikhlas dimiliki dalam hubungan yang tak pasti. Rasa ingin memiliki memang fitrah bagi manusia, tapi memiliki dalam pacaran justru menyelewengkan fitrah yang ada. Hati memang ingin memiliki, tapi tak harus memiliki jika cinta itu dijalin di jalur yang membawa kemudharatan dan menabrak aturan.

Lucunya cinta tak harus memiliki kerap dianggap munafik oleh sebagian orang. Bagaimana mungkin cinta tak harus memiliki itu munafik sedangkan tak ada cinta dalam kemunafikan!? Ingin memiliki bukan berarti harus memiliki. Seperti halnya ingin memiliki mobil mewah bukan berarti harus memilikinya. Jikapun hati ingin memiliki maka cara terbaik yang sesuai perintah-Nya.

Hubungan Dalam Kezaliman

Jatuh cinta bukan berarti harus jatuh pada suatu hubungan. Suatu hubungan belum tentu berisikan cinta. Orang beralasan menjalin hubungan karena jatuh cinta pada kekasihnya. Namun tak sedikit ku melihat yang mereka cintai justru bukan kekasihnya, tapi hubungannya. Kedudukan hubungannya melebihi derajat kekasihnya, karena tanpa hubungannya mereka tidak akan bersama kekasihnya.

Mereka mencintai hubungannya sampai tak ingin hubungan itu tercerai berai. Mereka mencintai hubungannya sampai rela disakiti berkali-kali, menangis berulang kali karena kekasihnya, tapi tetap mempertahankannya. Bukan mempertahankan kekasihnya tapi hubungannya. Ketika sang kekasih sudah tak layak untuk dipertahankan, masih layakkah mempertahankan hubungan?

Kemudian jika ada seseorang yang telah disakiti berulang kali namun masih mengaku mencintai kekasihnya, aku rasa itu bukan cinta tapi buta. Cinta itu membahagiakan bukan menyakitkan. Cinta memang membutuhkan pengorbanan, tapi bukan menuntut manusia untuk menjadi korban. Dalam hubungan cinta memang ada rasa sakit. Namun untuk memberi warna dan pelajaran bukan penyiksaan batin yang terus berulang.

Akupun heran ketika melihat orang yang disakiti berkali-kali tapi tak kunjung sadar diri. Semestinya ia sadar bahwa bertahan dalam kesakitan yang tak kunjung usai, bukanlah mempertahankan suatu hubungan tapi mempertahankan kezaliman. Ia membiarkan kekasihnya zalim terhadapnya dan mempertahankan hubungan yang membawa kemudharatan bagi pelakunya.

“Jika ku boleh memaksa akan rasa cinta, dan terjerembab dalam nistanya, niscaya tak akan selesai perjalanan yang telah menunggu di depan nyata, biarkanlah hanya akan menjadi sebuah kenangan yang akan menghantarkan pada kerja-kerja nyata, kerja-kerja para kesatria.”
— Budiman As’ady

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s