Mencintai Cinta

“Kan sudah pernah kubilang padamu: Aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga…”
— Helvy Tiana Rosa

Aku mencintaimu dengan segala keterbatasanku, meskipun cinta itu tak terbatas. Aku mencintaimu dengan segala kelebihanku, meskipun cinta selalu menuntut lebih. Aku mencintaimu dengan segala kekuranganku, walaupun cinta selalu merasa kurang. Lebih ataupun kurang, cinta tetaplah cinta. Cinta menuntut lebih karena sepantasnya cinta dilebihkan. Cinta merasa kurang karena cinta ingin selalu diperhatikan dan dirasakan.

Aku mencintaimu walau aku tak berharap lebih untuk kau mencintaiku kembali. Jikapun kau mencintaiku, silakan kau cintai untaian aksara yang aku tuliskan. Cintai pemikiranku yang kerapkali bertabrakan. Cintai kata-kataku yang tak jarang menyentak perasaan. Cintai cara kakiku melangkah. Cintai bagaimana lidahku berceloteh. Cintai bagaimana bibirku tersenyum. Cintai bagaimana ku tertawa, bercanda atau gembira. Namun jangan sekali-kali kau cintai caraku mencintai, karena aku khawatir akan kau sesali.

Aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku mencintaimu dengan tak memilikimu. Aku mencintaimu dengan mengikhlaskan cintamu yang bisu. Aku mencintaimu dengan kesendirianku meski aku berada di sampingmu. Mungkin sekilas cintaku seperti fatalis. Namun sesungguhnya aku hanya menjaga cinta agar tak terperosok ke dalam jebakan ibils. Lagipula aku tetap mencintai cinta meski kau tak ada, karena cinta memang sepatutnya dicintai sebagaimana cinta membuat dirimu istimewa di hati.

Cintai Cintaku

Aku mencintai cinta lebih dari mencintai wanita. Cinta tanpa wanita takkan mengurangi kesempurnaan cinta itu sendiri. Namun wanita tanpa cinta ibarat bulan tanpa cahaya. Di lain waktu aku berpikir, mungkinkah wanita merupakan wujud lain dari cinta? Atau cinta yang kini kurasa hanyalah bentuk abstrak dari hakikat cinta dan wanita yang kudamba merupakan wujud nyata dari cinta yang tersaji di depan mata? Entahlah, meski yang kurasa keduanya tetaplah sangat berharga.

Aku meyakini bahwa hakikat cinta yang sesungguhnya adalah cinta Sang Maha Pencipta. Maka dari itu cintailah Tuhan yang menganugerahkan cinta untukku, karena tanpa-Nya takkan ada cinta maupun kita. Tuhan-pun tak akan mati, meskipun nyawaku berlalu pergi. Tuhan tak akan mengkhianati sebanyak apapun Ia berjanji. Tuhan pula yang kujadikan landasan untuk mencintai, karena cinta-Nya sumber dari cinta yang kini aku miliki.

Aku memang tak ingin kau mencintai caraku mencintai. Namun aku harap kau mencintai cinta yang kumiliki. Cinta yang mencintaimu dalam kesunyian. Cinta yang menjaga perasaan dari kegelapan. Cinta yang melindungi diri dari keharaman. Cinta yang menjagaku lebih kuat dari aku menjaganya. Cinta yang memberiku harapan dan membangkitkan ingatan. Ingatan yang sadar atau tak kusadari semakin membangkitkan rasa cinta yang mendekam dalam hati.

Sejujurnya aku tak ingin cinta bangkit dan semakin tumbuh, meskipun aku tak ingin cinta berlalu pergi meninggalkanku seorang diri. Aku hanya tak ingin melukai cinta, tak ingin membuatnya ternoda. Akupun tak ingin membawa cinta ke jalan yang penuh dosa. Meski seringkali hati tersiksa karena menampung kontradiksi antara hasrat memiliki dan keikhlasan mencintai.

“Cinta adalah khabar yang berasal dari hati, kemudian akal mempersoal dan membantahnya. Namun, hati tetap percaya kepada khabar itu dan tegar menceritakannya. Dan hatipun sedia menanggung akibat atas pengkhabaran itu.”
— Taufiq el-Hakim

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

4 thoughts on “Mencintai Cinta”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s