Di Bawah Hujan

Adakah yang lebih menyayat dari rindu dan hasrat terpendam di bawah naungan hujan?

Malam menangis di balik gema tadarus yang berkumandang.

Jiwa-jiwa penuh utopia terjebak di jalan fatalis dalam keterasingan.

Tuhan, aku tak tahu sampai kapan sesak menyiksa perlahan . . .

“Aneh, memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.”
— Laksmi Pamuntjak

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s