Relativitas Keindahan Masa Remaja

“Some are young people who don’t know who they are, what they can be or even want to be. They are afraid, but they don’t know of what. They are angry, but they don’t know at whom. They are rejected and they don’t know why. All they want is to be somebody. ”
— Thomas S. Monson

Masa remaja, masa yang dikatakan banyak orang sebagai masa yang paling indah. Meskipun makna dari indah itu sendiri masih ambigu. Indah yang seperti apa? Apakah segala detail keindahan yang dirasakan akan sama sebagaimana orang lain merasakan? Jika ada hal yang menurutmu indah, belum tentu indah bagiku. Jika ada hal yang bagiku indah, belum tentu pula indah bagimu. Indah dalam setiap perspektif orang tentu tak semua sama.

Keindahan masa remaja yang sering dibicarakan tak jauh dari kisah percintaan, berkumpul dan melakukan hal gila bersama kawan, sampai kejadian-kejadian yang pada masanya merupakan kebodohan menjadi indah untuk dikenang. Masa remaja memang begitu indah dengan segala pernak-perniknya. Hingga tak terasa waktu perlahan membawa masa remajaku pergi menjauh.

Mendengar lagu-lagu favorit, menonton film-film terbaru, menyaksikan konser penyanyi idola, bahkan larut dalam rasa cinta terhadap lawan jenis, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja pada umumnya. Begitupun dengan diriku dulu. Yah setiap orang memiliki masa lalu. Walaupun beberapa bagian dari masa lalu itu masih melekat dalam diri. Tak ada niatan pergi dan selalu kembali lagi.

Kesenangan & Keindahan

Masa remaja merupakan waktu emas untuk memperbekal diri dengan berbagai macam kegiatan positif. Mulai dari mengisi hari dengan menuntut ilmu di sekolah, kampus atau pesantren. Meningkatkan kualitas diri dan ibadah dengan memperdalam ilmu agama. Bahkan ada pula yang sudah mempersiapkan diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Selama hal itu bersifat konstruktif bagi diri, rasanya tak masalah.

Perbekalan pada masa remaja penting untuk masa dewasa dan tua bahkan hingga kematian tiba. Tentu banyak tujuan yang ingin dicapai setelah masa remaja berakhir. Setelah membaca dua kalimat barusan siapapun semestinya paham, masa remaja bukanlah tujuan.Tapi hanya alat untuk mencapai tujuan itu sendiri. Meski harus diakui tak sedikit orang yang terjebak pada kesenangan masa remaja yang akhirnya berpaling dari tujuan sebenarnya.

Beragam kesenangan memang terhampar untuk dinikmati ketika remaja. Tapi tak semua remaja seragam dalam menyikapi kesenangan itu. Ada yang hampir sepenuhnya menggantungkan diri pada kesenangan. Ada yang menganggap kesenangan hanyalah hiburan tanpa menjadikannya candu yang membuat ketagihan. Ada pula yang menganggap kesenangan sebatas aksesoris yang kurang diperhatikan. Setiap remaja memiliki kebiasaan dan pemikiran masing-masing.

Sayangnya tak sedikit orang yang bepola pikir bahwa masa muda baiknya dipakai untuk bersenang-senang. Mengumbar dalih dengan ucapan “mumpung masih muda” atau “masa muda cuma sekali, so nikmatin aja lagi”. Kalau “mumpung masih muda” ditempatkan pada hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas diri tentu akan lebih bermanfaat. Meskipun kesenangan itu hal yang wajar selama tetap dalam aturan dan tidak dianggap sebagai tujuan.

Miris kalau melihat remaja yang menghabiskan usia muda hanya untuk bersenang-senang. Kesenangan memang tidak dilarang selama tidak melanggar norma dan agama. Tapi sungguh tidak pada tempatnya memandang masa muda hanya sebatas wadah untuk bersenang-senang. Ketika kesenangan yang dipuja-puja mendatangkan kesia-siaan maka penyesalan yang akan datang, karena masa muda hanya sekali dan takkan kembali. Itupun kalau diri masih mau untuk sejenak berpikir.

Beragam pandanganpun muncul terkait kesenangan dan keindahan masa remaja. Ada yang menganggap kesenangan itu sebagai keindahan di masa remaja. Ada yang berpikiran bahwa seluruh kesenangan dan kesedihan merupakan satu paket keindahan masa remaja. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa keindahan di masa remaja adalah saat masa itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Intinya warna keindahan di masa remaja tergantung pada individu yang menjalaninya.

“The beginning of wisdom, as they say. When you’re seventeen you know everything. When you’re twenty-seven if you still know everything you’re still seventeen.”
— Ray Bradbury

Keindahan Utopia

Setiap remaja memiliki kisahnya masing-masing yang tak jarang menjadi duri dalam daging. Sepahit apapun itu tetap harus diakui, bahwa di balik label keindahan masa remaja ada luka yang tersimpan. Entah luka itu tampak atau tidak, luka itu kian menganga seperti kertas yang terbakar dari tengahnya. Takdirpun berkata lain, keindahan masa remaja yang sering didengung-dengungkan ini hanyalah utopia bagi segelintir orang.

Tak jarang kita temukan di media, pemberitaan tentang banyaknya remaja yang terkena kasus pidana atau mati sia-sia. Membunuh, memperkosa, menganiaya, tawuran, minum-minuman, mengonsumsi obat terlarang dan segala hal negatif yang merusak fisik dan moral. Baik yang dipengaruhi oleh lingkungan atau dirinya sendiri. Meskipun yang kutahu, kebanyakan remaja yang terkena kasus diakibatkan terlalu bablas dalam pergaulan atau keluarga yang berantakan.

Akupun jadi berpikir apakah indahnya masa remaja tak berlaku bagi semua remaja? Ataukah setiap remaja memiliki definisi masing-masing tentang keindahan masa remaja meskipun definisi itu bertentangan dengan aturan? Keindahan terjebak pada kisah nyata yang pahit membuatnya hanya menjadi utopia dalam perjalanan waktu. Hampir mustahil diraih lalu hanyut terbawa arus dan menjadi buih. Keindahan yang banyak acapkali dianggap bersumber dari hal positif, ternyata dapat bersumber dari hal negatif menurut sebagian orang.

Kita dapat temui orang yang beranggapan, bahwa berbagai hal negatif adalah keindahan bagi dirinya. Meskipun keindahan itu semu dan hakikatnya racun yang dapat merusak dan membunuh secara cepat atau perlahan. Aktivitas minum-minuman, sex bebas dan memakai narkoba merupakan suatu keindahan bagi sebagian orang. Itu semua dilakukan untuk melepas penat dari kesibukkan, sebagai bentuk pelarian dari masalah keluarga yang berantakan, juga sebagai cara agar eksistensinya diakui di kelompoknya.

Di sisi lain ada yang sejak masa remaja sudah sibuk mengais rejeki demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya yang kurang mampu. Bahkan ada yang mencari nafkah sejak masa kecilnya. Jangankan untuk bersenang-senang, untuk memenuhi kebutuhan primerpun bukan perkara yang mudah. Membanting tulang, mengorbankan pendidikan dan masa remajanya demi keluarga.

Mungkin kita melihat keadaan itu seakan tak ada celah keindahan masa remaja yang hadir di tengah kehidupannya. Sekali lagi, tiap orang memiliki keindahannya masing-masing. Menafkahi dan membuat perut keluarganya kenyang, kurasa itu keindahan tersendiri bagi mereka. Orang-orang seperti inilah yang tak jarang menjadi pengingat akan segala nikmat yang Allah berikan. Semoga mereka selalu dalam perlindunga-Nya.

Jadilah Keindahan

Pada akhirnya aku menyadari, keindahan masa remaja hanyalah soal cerita dan peristiwa yang menyelimutinya. Bukan hakikat dari keindahan yang sebenarnya. Setiap individu memiliki sikap dan pandangan tentang keindahan. Jika tak memiliki kenangan indah, berilah warna keindahan dalam hidup orang lain. Jika tak mampu memberi warna keindahan, maka jadilah keindahan itu sendiri.

“Dikala semua remaja – baik remaja kedewasa-dewasaan maupun remaja kekanak-kanakan – sibuk menikmati masa mudanya, aku sibuk melatih diri dan bekerja keras untuk menggapai masa depanku dengan memanfaatkan kemudaanku.”
— Finchu Harefa

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s