Setelah Ku Lahir

“Ayah bunda, kucintai kau berdua seperti aku mencintai surga…”
— Abdurahman Faiz

Seorang wanita menjerit, menahan sakit dan terengah-engah dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Keringat mengucur deras dari berbagai penjuru. Membasahi rambutnya yang hitam, membentuk butiran-butiran air yang menempel di dahinya. Mulutnya sesekali berteriak, mengerang atau terkatup menahan sakit yang teramat sangat. Tangannya menggenggam kain sekaligus matras tempatnya terbaring. Kakinya mengangkang lebar memberikan jalan keluar bagi kandungan yang akan dilahirkan.

Bidan dengan cekatan dan penuh kehati-hatian memberikan instruksi dan membantu proses persalinan. Menyemangati, memberikan dorongan agar wanita itu tak menyerah di tengah jalan. Persalinan harus segera usai dengan keselamatan si wanita dan cabang bayi yang dilahirkan. Meskipun rasa sakit yang mengiringi membuat waktu seakan bergerak pelan. Hingga akhirnya, seluruh perjuangan dan rasa sakit terbayar setelah si cabang bayi hadir dalam pelukan.

Rasa sakit yang dirasakan saat proses persalinan tidak sebanding dengan rasa bahagia ketika wanita itu menatap wajah kecil bayinya. Wajah malaikat kecil yang telah lama dinantinya. Wajah yang suci dari dosa, belum tercemari oleh kekotoran dinamika kehidupan. Wajah yang kini tumbuh dewasa menjadi diriku. Meskipun aku tak tahu pasti bagaimana rupaku saat itu, karena tak ada cerita bergambar yang dapat menerangkannya padaku.

Lebih Spesial Dari Raja

Betapa rapuhnya diriku saat pertama kali menghirup udara. Hanya tangisan pemecah hening yang kukeluarkan. Tangisan yang dibalas senyum bahagia ayah dan ibu. Seandainya mereka menangis, butiran tangisnya lebih berharga dari mutiara. Tangisan bahagia menyambut pangeran kecil yang dianugerahkan Tuhan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasa bahagia di raut wajah mereka saat menatapku untuk pertama kalinya. Tak ada rasa kecewa, sedih ataupun duka meski tubuh ibu terluka karena melahirkanku. Berbarengan dengan luka itu, penantian yang panjang akhirnya tuntas dengan lahirnya diriku.

Ayah dan ibu telah menantiku begitu lama. Bahkan jauh sebelum aku berada di dalam kandungan. Bertahun-tahun sebelum aku lahir mereka telah mengidamkan seorang putra. Namun Tuhan berkehendak lain. Srikandi-srikandi lebih dahulu didatangkan. Para srikandi yang kini menjelma menjadi kakakku. Kakak-kakak yang turut menyambut kelahiranku dan menjaga tubuh lemahku.

Tubuh kecilku laksana boneka bernyawa yang rapuh. Aku digendong, ditimang, dinyanyikan dan didoakan. Dilindungi dari berbagai ancaman dan segala hal yang membuatku tak nyaman. Dilindungi tangan yang lembut namun melindungi dengan kuat. Jika dibandingkan dengan perlindungan terhadap presiden, perlindungan seorang ibu terhadap buah hatinya masih tiada bandingannya. Perlindungan seorang ibu tak sekedar melindungi dengan kuat. Namun di balik perlindungannya itu ada kekuatan dan perhatian yang amat tulus memancar dari hati demi sang buah hati.

Tiada lagi yang diberikan padaku selain perhatian dan kasih sayang yang begitu dalam. Aku seperti raja, bahkan melebihinya. Bila seorang raja didengar perintahnya, aku tak memerintahpun ibu sudah mengetahui keinginanku melalui nalurinya. Jika tangisan keluar dari mulutku, ibu langsung sigap menggendongku, menyusui, menimang-nimang hingga aku terlelap bahkan tertawa riang. Aku mengencingi tubuhnyapun ibu tak marah, malah ia tertawa dan dengan ikhlasnya mengganti pakaianku. Segalanya menjadi berkesan meskipun itu merepotkan.

Aku memang tak mengingat segala detail peristiwa yang terjadi saat ku bayi. Namun satu hal yang kuyakini, darah daging adalah segalanya dan segalanya dipersembahkan untuknya. Kalau seorang anak bukanlah apa-apa, takkan sudih seorang ibu mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya. Takkan mungkin seorang ayah rela membanting tulang demi menafkahinya. Termasuk diriku yang segalanya dan segalanya mereka berikan untukku. Bahkan hingga kini usiaku beranjak dewasa. Ah ibu, ayah, sekeras apapun aku berusaha, takkan mungkin menandingi pengorbanan kalian yang terlalu berharga

Merindukan Yang Bukan Ingatan

Setiap nyawa yang terlahir di dunia pasti mempertaruhkan nyawa yang melahirkan pula. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa nyawa manusia begitu berharga. Inilah pula yang patut direnungkan betapa seorang ibu rela berada di antara hidup dan mati demi sang buah hati. Proses melahirkan kalau kupikir seperti keajaiban. Pria manapun belum tentu sanggup melakukannya. Dibutuhkan keberanian, kekuatan, keikhlasan dan kesabaran yang tak biasa. Untuk itulah aku memandang wanita sebagai makhluk yang luar biasa, terutama ibuku tentunya.

Aku dan mungkin semua orang di dunia, takkan mengingat rasanya saat dilahirkan. Bahkan setelah beberapa bulan dalam gendongan. Aku hanya bisa menerka bagaimana ku diperlakukan. Bagaimana ayah dan ibu merawat, menjaga dan memperhatikan perkembangan diriku. Selalu sabar menghadapi rengekanku, terutama saat tengah malam mengganggu nyenyaknya tidur ayah dan ibu. Entah karena aku lapar, sakit atau apapun itu tak membuat orang tuaku lelah menuruti tangisku.

Dalam perjalanan waktu tubuhku semakin berkembang. Perlahan tubuhku mulai bergerak-gerak lebih lincah. Lalu aku dapat tengkurap, merayap, membolak-balikkan tubuh dan duduk dengan tegap. Setelah itu aku belajar berdiri, kemudian berjalan dan berlari. Seorang anak yang masih lemah tak mengerti apa-apa melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Proses yang menurutku juga merupakan keajaiban meskipun di luar sana pasti ada penjelasan ilmiah yang lebih terinci.

Aku berkembang dalam perhatian dan bimbingan ayah dan ibu. Setiap tahap perkembangan berhasil aku lewati, tergurat rasa ceria di wajah mereka. Seakan-akan aku baru saja memecahkan rekor yang tak dapat dipecahkan orang lain. Setiap aku berhasil melewati tiap tahap perkembangan, ayah dan ibu akan menceritakannya ke saudara, tetangga dan teman-temannya. Begitu berartinya diriku sampai segala perkembangan yang terkait diriku dibanggakan dihadapan banyak orang.

Aku memang tak mengingat bagaimana rasanya berkembang. Namun aku yakin sebagaimana orang tua kebanyakan, ayah dan ibu pasti bahagia dengan perkembanganku. Perkembanganku begitu berarti dan membuat mereka berbahagia. Meskipun saat itu aku masih belum sanggup memberikan sesuatu yang berharga. Mungkin akulah sesuatu yang berharga itu. Iya, seorang bayi yang dianugerahkan Tuhan pastilah berharga. Hingga akhirnya aku rindu menjadi bayi yang berharga.

Aku rindu saat diriku masih bayi dan balita. Aneh memang, aku tak mengingat peristiwa di usiaku saat itu tapi aku merindukannya. Aku merindukan diriku yang membuat ayah dan ibuku tertawa. Aku merindukan diriku yang membuat ayah dan ibu bahagia meski aku belum mampu memberikan apa-apa. Aku juga rindu saat diriku jauh lebih berharga dibanding ketika ku telah dewasa. Mungkin ayah dan ibu juga merindukan saat-saat itu. Saat dimana aku dalam pelukan ibu, saat dimana aku dalam gendongan ayah.

Ibu, ayah, aku rindu . . .

***

Hanya satu pintaku
‘tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

Hanya satu pintaku
‘tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

Apabila ini hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap dan
tak pernah terbangun

Hanya satu pintaku
‘tuk memandang langit biru
di pangkuan ayah dan ibu

— Mocca, Hanya Satu

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s