Menelan Rindu Putih Abu-abu

“Hanya kepada sang malam ia selalu berbincang tentang sebuah rindu. Tarian aksara jiwa yang tak pernah bisa ia ungkapkan sekalipun beribu kesempatan kerapkali menyodorinya waktu untuk berbagi.”
— Dian Nafi

Aku tak tahu apa itu rindu, hingga aku merasa masa lalu tak kunjung berlalu. Aku tak mengerti hakikat rindu, hingga masa lalu terasa merangsek ke dalam otakku. Masa lalu itu . . . Bukan, bukan soal cinta ataupun wanita. Bagiku rindu tak melulu soal cinta dan wanita. Sungguh memoar lebih dari sekedar cerita. Di dalamnya ada aku, dia, mereka dan kita. Dalam bingkai ruang dan masa menyajikan kisah nyata yang perlahan memudar dalam bayang retina.

Rindu yang kian menggebu tak hentinya membuat pikiranku terpaku. Menerawang masa silam yang tak mungkin kembali kugenggam. Ah rasa rindu menimbulkan kontradiksi dalam batinku. Masa-masa yang kurindukan begitu indah. Namun keindahan ini yang membuat hatiku menahan sesak. Ingin aku kembali, ingin kuulang lagi. Meski diri ini menyadari, mengulang kenangan hanyalah keinginan bodoh yang mustahil terjadi.

Memoar Bangku Sekolah

Masa sekolah, memoar yang tak pernah bosan menghampiri. Tak sulit bagiku untuk merangkai kembali bayang-bayang temaram yang dulu menghiasi hari. Berseliweran dalam pikiran membentuk panggung cerita nyata yang terekam, lalu ditayangkan bagai pemutaran film di bioskop tua. Semua telah terjadi, terskenario dengan rapih tanpa satu detikpun lepas dari nafas.

Canda dan tawa tak pernah lelah mendampingi masa itu. Nyaris tiada hari tanpa tragedi lucu, meski ada kalanya hati mengharu biru dan amarah menembakkan peluru. Kesenangan dan kesedihan dalam sebuah masa laksana angin dan hujan yang menerpa bumi di musim yang sama. Menyuburkan asa, mengairi kegersangan atau malah menenggelamkan, hingga dedaunan tak mampu lagi menatap rembulan.

Segala cerita yang terangkum dalam bangku sekolah menjadi coretan sejarah. Walaupun masa sekolah tak mungkin dirangkum secara sempurna dengan indah. Rangkuman yang kuharap tersimpan rapih dan abadi dalam memori. Untuk suatu hari nanti kubuka kembali, saat diri hanyut dalam nostalgia yang membuat kerinduan semakin menggila.

Kursi dan meja yang penuh coretan, kertas-kertas yang berserakan, buku-buku teman yang dijadikan “ensiklopedia” contekan, merupakan pernak-pernik kenangan yang jika secuil saja datang, menjerumuskan diri ke dalam khayalan dan seakan tak ingin kembali pulang. Oh kawan, apakah dirimu merasakan hal yang serupa? Rindu yang berkecamuk dan tak henti mencambuk.

Rindu : Menyiksa Dalam Rasa

Seragam kini telah menguning, buku catatan dan pelajaran berdiam diri menjadi saksi bisu. Nama-nama yang terpampang dalam nomor absen kini masing-masing memiliki kesibukan. Entah kesibukan dalam pendidikan, pekerjaan atau bahkan sibuk dalam kerinduan. Kerinduan yang merindukan tak hanya si pelaku sejarah, tapi rindu akan peristiwa yang tak mungkin dapat dilupakan dengan mudah.

Rindu akan masa putih abu-abu begitu menghujam jantung, menciptakan lorong waktu yang menarik angan untuk terjun ke masa itu. Tarikannya begitu kuat membuat diriku semakin terjerat. Ingin kulepas jeratan itu dan membunuh rindu yang berdiri angkuh menantangku. Sayang sungguh sayang aku mengalami kekalahan, atau lebih tepatnya diriku mengalah. Tak tega kubunuh rindu karena ia tak pernah salah. Ia datang dan pergi karena diriku yang menuntutnya untuk kembali.

Rindu kembali dalam ilusi yang semakin menjadi. Lidahku kelu tak mampu memprotes atau melarang apa yang memang kuinginkan untuk terjadi. Logikaku kacau, hatiku meracau. membuat daksa seakan bergerak dalam igau. Jika diibaratkan obat-obatan, rindu ini membuatku sakau. Memang tampak berlebihan, tapi rindu memang selalu lebih meski tanpa dilebihkan. Meski begitu, lebihnya rindu takkan mampu melebihkan waktu untuk memberi kesempatan mengulang catatan sejarah yang tak kunjung berlalu.

Tinta sejarah yang tergores dalam memori memang tak mudah untuk berlalu. Namun kerap memudar seiring berjalannya waktu. Bahkan sebaliknya dapat bertambah pekat dalam ingatan yang kuat. Membuat rindu semakin melekat tak lekas beranjak dari hati yang terkoyak. Hati yang terkoyak? Entahlah. Bisa saja rindu yang dikoyak oleh hati yang menyalak. Segala kemungkinan dapat terjadi di tengah rindu yang tak pernah mati. Terlebih dalam buramnya hakikat rindu akan masa lalu. Masa lalu yang selalu datang ataukah masa lalu sedari dulu tak pernah berpulang. Aku merindukan masa itu kawan . . .

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

— Ipang, Sahabat Kecil

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s