Tanpa Mantan dan Pacaran

“Mencintai itu perkara hati, maka dilapangkannya seluas langit dan bumi.”
— Dian Nafi

Mantan Bukan Kebanggaan

Mantan, mantan, mantan dan mantan. Status yang sering diperbincangkan terutama bagi remaja yang baru putus pacaran. Jangankan yang baru merasakan putus hubungan, status mantan yang sudah lama didapatkanpun selalu hangat untuk dibicarakan. Mantan seperti paku yang menancap di pagar kayu. Sekali tertancap kuat akan terus merekat. Sulit untuk mencabutnya dan akan meninggalkan lubang di kayu yang ditinggalkannya.

Banyak yang menyesal karena menjadi mantan lalu galau berkepanjangan. Tak sedikit pula yang menyesal tetapi tetap legowo karena hidup harus terus berjalan. Dua hal barusan memang sewajarnya terjadi, dan selayaknya terjadi untuk hal yang kedua. Terutama bagi para remaja yang masih berada dalam tahap pendewasaan dan pencarian jati diri. Tetapi bukan berarti segala kelabilan dapat dibenarkan, karena sikap labil adalah pilihan. Memilih bertahan pada kelabilan atau bertransformasi ke arah pendewasaan.

Selain penyesalan, ada orang yang justru senang memiliki mantan. Apalagi jika seorang perempuan memiliki mantan yang tampan, rajin beribadah atau mungkin bad boy dan diidolakan banyak perempuan. Tak kalah juga seorang lelaki akan bangga jika memiliki mantan yang cantik, diidam-idamkan kaum adam dan menjadi pusat perhatian. Lebih mengherankannya lagi ada orang yang bangga memiliki banyak mantan seakan mantan merupakan koleksi barang antik yang bernilai. Padahal yang membanggakan mantan belum tentu dibanggakan mantannya.

Mantan bukanlah piala yang dikoleksi lalu dibanggakan. Jadikan mantan sebagai pengalaman dan pelajaran bukan kebanggaan. Kalau mantan itu membanggakan kenapa dilepas? Bukankah suatu kebanggaan itu baiknya dipertahankan? Dipertahankan bukan untuk pacaran, tetapi dibawa ke pelaminan. Kalau belum siap ke pelaminan? Sibukkan hari untuk mempersiapkan diri, bukan berhubungan dengan komitmen yang tak pasti.

Di sisi lain ada juga yang melihat mantan ibarat melihat sampah busuk. Tak berguna dan baiknya dimusnahkan dari muka bumi. Mungkin ini yang kata kebanyakan orang bilang “Putusnya ga baik-baik”. Meskipun putusnya baik-baik, tentunya putus karena ada hal yang tak baik. Kalau semua baik-baik saja kenapa bisa putus? Putusnya hubunganpun menimbulkan pertanyaan, orangnya yang tak baik atau pada dasarnya pacaran itu memang tak baik? Masing-masing mempunyai penilaian.

“Tidak ada yang terenggut. Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri. Kau hanya belum menemukannya.”
— Windry Ramadhina

Pacaran Untuk Menjadi Mantan

Status mantan tentunya berawal dari putusnya hubungan. Kalau sebelumnya tidak pacaran tak mungkin juga disebut mantan. Pacaran memang terlihat menyenangkan, tapi yang pasti belum tentu menenangkan. Terlebih ketika telah menjadi mantan, hati jauh lebih tak tenang. Saat bertemu sikap berubah kaku. Kalaupun sikap tak kaku pasti ada yang mengganjal di hati dan pikiran.

Setelah menjadi mantan ada yang tetap berkawan meski putus hubungan. Mirisnya kalau melihat ada orang putus lalu bermusuhan. Memutus silaturahim karena hubungan yang jauh dari keseriusan. Pacaran jauh dari keseriusan? Iya, serius itu menikah bukan pacaran. Absurd jika ada orang berkata “pacaran serius”. Apanya yang serius, kalau putus ya tinggal putus. Kalau ada pihak merasa sakit hati tak ada aturan pasti yang melindungi.

Tak ada aturan tentang pacaran, baik dalam agama maupun peraturan negara. Kalau putus hubungan mengadu pada siapa? Allah? Bukankah sejak awal Allah memerintahkan menikah bukan pacaran? Mengeluh pada Allah atas kesalahan sendiri, baiknya direnungi. Lucunya ada yang menganggap putus pacaran sebagai ujian dari Allah. Manusia memang belum tentu tahu apakah itu ujian atau bukan. Tapi pikir saja putusnya hubungan yang tak halal itu lebih layak disebut ujian atau teguran.

Kalau masih ingin berpacaran ya silahkan. Tentu lebih baik lagi kalau dalam waktu dekat melangkah ke pelaminan. Hubungan yang halal tentu lebih baik bukan? Pegang ini pegang itu, bermalam di sini bermalam di situ, bermesraan seperti ini bermesraan seperti itu, tentu tak jadi masalah. Masalah timbul kalau yang seperti itu justru yang belum siap menikah. Menikah saja belum berani, masa sudah berani menjalin hubungan layaknya suami-istri. Tak habis pikir.

Menikah Tanpa Mantan

Jujur saja aku belum pernah berpacaran dan karena itulah aku tak memiliki mantan. Loh aku belum pernah berpacaran dan tak memiliki mantan, kok bisa-bisanya menulis persoalan terkait dua hal ini? Tidak perlu melakukan hanya untuk mengetahui dan merasakan. Banyak orang yang pengalamannya bisa dijadikan pelajaran. Akupun memiliki kawan yang menyarankanku untuk tidak berpacaran, padahal dia sendiri berpacaran. Aneh memang, tapi itulah kenyataan.

Kerapkali kenyataan memang tampak aneh. Tapi tidak memiliki mantan itu kenyataan yang melegakan dan menenangkan. Apalagi ketika berumah tangga nanti, lebih meminimalisir kecurigaan istri terhadap teman wanita. Lagipula aku tak ingin menjadi “barang bekas” bagi istriku. Istriku akan kuanggap sebagai ratu, tentu ratu lebih layak menerima barang baru.

Aku memang tak memiliki mantan, tapi bukankah aku pernah menyukai wanita lain? Berarti istriku berhak curiga terhadap wanita yang pernah kusukai dulu? Menyukai atau mencintai itu fitrah manusia. Selanjutnya tergantung bagaimana manusia menyikapi perasaan itu. Toh aku tak pernah mengajak wanita yang kusuka untuk berpacaran, hanya sebatas mengungkapkan perasaan. Istrikupun pasti pernah memiliki perasaan terhadap lelaki lain sebelum diriku. Bagiku itu hal yang wajar. Setiap orang jatuh cinta bukan karena keinginannya, termasuk diriku dan kamu.

“Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi laki-laki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing.”
— M. Quraish Shihab

Menikah Tanpa Pacaran

Pacaran itu tak serius, soal perasaan itu serius. Untuk itulah aku tak ingin melimpahkan perasaanku yang serius pada hubungan yang tak serius. Walaupun tak serius, banyak orang beranggapan pacaran juga memiliki manfaat. Kalaupun bermanfaat, manfaatnya tak lebih banyak dari mudharatnya. Sedangkan menikah sudah pasti membawa manfaat, karena menikah bagian dari syariat dan tujuan syariat menjaga maslahat.

Bicara soal menikah yang dimulai dengan pacaran, faktanya memang banyak orang yang berpacaran sampai jenjang pernikahan. Malah ada yang awet sampai maut memisahkan. Bagiku ini soal pilihan bagaimana memulai hubungan yang halal dengan cara yang halal. Menikah itu ibadah, rasanya tak baik memulai ibadah dengan cara yang tak diridhai-Nya.

Terus kalau tak pacaran bagaimana akan menikah? Dalam Islam ada konsep ta’aruf. Tapi perlu diingat ta’aruf bukan seperti membeli kucing dalam karung. Apalagi seperti perjodohan siti nurbaya, karena dalam ta’aruf tidak boleh ada unsur pemaksaan. Menikah adalah ibadah, dan setiap ibadah diberi petunjuk oleh Allah. Ta’aruf ini yang Allah jadikan sebagai petunjuk dalam pernikahan.

Pacaran atau tidak pada akhirnya merupakan pilihan. Seperti menjadi mantan atau berlanjut ke pelaminan. Dalam memilih tentu menggunakan akal dan iman. Aku lebih memilih yang selaras dengan akalku dan tak berlawanan dengan keimananku. Perlu diingat juga tulisan ini hanya opini pribadiku. Kalau kamu memiliki pandangan lain dan tak setuju, itu hak pribadimu. Tenang saja kita tetap akan berkawan walaupun berbeda pandangan dan pelaminan.

“Cinta itu boleh jadi buta, tapi dia tidak pernah tersesat untuk pulang ke pangkuan orang-orang yang sabar dan yakin. Lepaskanlah cinta buta kalian–yang membuat sesak, galau. Esok lusa, jika memang jodoh, dia akan kembali mengetuk pintu hati kita. Di momen yang tepat, saat kalian sudah siap, dan semua sesuai rambu-rambu agama. Jika dia tidak pulang, insya Allah akan datang penggantinya yang lebih cemerlang.”
— Darwis Tere Liye

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

2 thoughts on “Tanpa Mantan dan Pacaran”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s