Dikotomi Logika dan Rasa

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
— Pramoedya Ananta Toer

Logika dan rasa, dua kubu yang tak jarang saling bertentangan. Seringkali keduanya berperang argumen membisikkan kata-kata yang mempengaruhi manusia. Logika berkata lurus, rasa berkata belok. Tak mudah untuk keduanya mencapai titik temu dalam memberikan solusi yang memenangkan keduabelah pihak. Harus ada yang dikorbankan dan diprioritaskan. Meskipun tak ada yang mau mengalah karena gengsi keduanya terlanjur menyatu dengan darah.

Logika merasa kuat dengan strukturnya yang sistematis. Rasa merasa suci dengan nurani yang menjadi musuh iblis. Bertarung menjadi yang terdepan dalam mempengaruhi pandangan. Setiap saat menggenggam sebilah pedang demi kemenangan dalam peperangan. Perang yang tak pernah usai hingga maut menjemput sang jenderal. Jenderal pemilik dua kubu yang saling mengangkat senjata, dimana ia kerapkali terjebak dalam dikotomi logika dan rasa.

Logika : Penghubung Realita

Rasa bersebrangan dengan logika sebagaimana hati dan akal yang sulit untuk bergandengan mesra. Rasa seringkali berkontradiksi dengan realita yang ada. Dunia dengan dinamikanya melahirkan subyektifitas dalam merasakan apa yang nyata. Kenyataan yang seringkali bertolak belakang dengan harapan dan impian, membuat diri kerap terjebak dalam angan akan utopia yang sulit untuk diwujudkan.

Di sinilah logika hadir dengan modal kerangka berpikir. Menghubungkan realita dengan mimpi yang ingin menjadi nyata. Menghubungkan yang tidak hanya bermula dari menemukan jalur penghubung. Tapi juga menentukan jalur mana yang tepat sebagai penghubung, bagaimana menggunakan jalur dengan benar dan menghasilkan sesuatu yang benar pula. Semuanya bersatu padu menjadi hipotesis untuk kemudian diuji dalam implementasi hingga akhirnya membentuk teori.

Di luar spontanitas, logika memerintah raga agar bertindak secara logis dan terencana. Memilah yang benar dan salah, atau mencari keuntungan semata. Logikapun tak pernah berhenti membentuk tesis-antitesis-sintesis dalam dinamika kehidupan. Menciptakannya dari pembacaan terhadap realita, karena realita tak pernah menyembunyikan yang sebenarnya.

“Realita? Aku meragukan realitaku sendiri. Yang mana realitas itu sebenarnya? Mungkin bagiku mimpi dan fiksi itulah realita sejati, sedang hidup yang kata mereka kujalani hanyalah mimpi, cerpen bahkan novel yang belum selesai.”
— Helvy Tiana Rosa

Rasa : Segenggam Arti dan Makna

Logika mengedepankan fungsi, rasa memberikan arti dan motivasi agar jiwa tak terjebak dalam pragmatisme. Segala hal yang tak memiliki arti pasti akan terasa hambar. Membuat angan menjadi tak lebih dari sekedar tujuan kemanfaatan tanpa memahami makna dan mengambil nilai dibalik kemanfaatan itu. Mengejar kegunaan yang sekedar kegunaan membuat manusia layaknya robot tanpa perasaan, kaku dan monoton.

Mengutip perkataan Buya Hamka, “Jika hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup”. Semua orang bisa hidup dan bertahan hidup. Namun berapa banyak orang yang paham makna dibalik kehidupan itu? Berapa banyak orang yang hidup raganya tapi mati hatinya? Hal-hal seperti inilah yang kerapkali terlupa atau bahkan dilupakan.

Kita bisa mengambil contoh dalam berumah tangga misalnya. Jika hanya dinilai dari fungsi, rumah tangga tak lebih dari pemuas kebutuhan biologis dan cara yang sah untuk memperbanyak keturunan. Segala ikatan dan hubungan emosional menjadi tak berarti. Kehidupan tanpa arti seperti kendaraan umum yang berlalu lalang di jalanan. Digunakan saat bepergian, diperbaiki jika mengalami kerusakan, hingga tiba waktunya menjadi barang rongsokan.

Kata Hati dan Logika

Sering orang berkata lebih baik ikuti kata hati ketimbang logika. Persoalannya, hati yang diselimuti nafsu atau hati yang tunduk pada Sang Pencipta waktu? Hati bukanlah penentu mutlak benar salahnya dalam bertindak. Hati yang sedang dilanda amarah tentu akan berbeda dengan hati yang diselimuti senyuman. Untuk itulah ada logika yang otoritasnya lebih tinggi dari hati dalam mengukur benar dan salah.

Apa ini berarti lebih baik mengikuti logika secara mutlak? Tidak juga. Memang banyak kebenaran yang dapat diukur dan diterima logika. Tapi tak kalah banyak pembenaran yang berasal dari penyesatan logika. Bermain kata dan disorientasi makna, menimbulkan kerusakan pemikiran yang berlanjut pada pembenaran terhadap hal-hal yang dilarang Tuhan. Untuk itulah ada wahyu otentik sebagai sumber kebenaran yang dijadikan pedoman.

Hati sebagai sumber rasa bertautan dengan logika. Meski sering bertabrakan keduanya tetap saling melengkapi. Tanpa logika, benar dan salah menjadi abu-abu lalu manusia terperangkap dalam pemikiran yang keliru. Tanpa hati hilanglah nurani, membuat manusia layaknya benda mati yang hanya dinilai dari segi fungsi. Sungguh logika dan rasa, akan terus berlawanan namun berkawan hingga ajal datang.

“Kadang cinta berkata: logika adalah salah, dan ia hanya membela rasa.”
— Robin Wijaya

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

One thought on “Dikotomi Logika dan Rasa”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s