Catatan Untuk Sang Jodoh

“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”
— Ibnu Qayim Al-Jauziyah —

Teruntuk Jodohku

Jodohku, aku tak tahu siapa namamu, bagaimana rupamu, perangaimu dan cara bicaramu. Aku juga tak tahu dari mana asalmu, silsilah keluargamu, di mana kau menetap dan apa saja aktivitas keseharianmu. Seringkali aku menebak dalam khayalan bagaimana rupa daksamu. Menerka-nerka betapa anggun dan cantiknya kau berjalan menghampiriku. Melemparkan senyum manis yang merasuk menentramkan hatiku. Ah entahlah, apakah itu hanya tebakanku saja atau angan-angan yang muncul dari rasa penasaran.

Orang-orang di sekelilingmu pasti banyak yang berkata bahwa jodoh berada di tangan Allah. Urusan mati, rejeki dan jodoh memang sudah menjadi hak prerogatif Sang Pencipta. Kita sebagai hamba hanya dapat berencana dan berusaha tanpa tahu bagaimana hasilnya. Jodoh sebagai salah satu misteri hanya akan terpecahkan saat jodoh itu datang. Aku tahu kelak kau akan datang wahai jodohku, jika kau lebih dahulu datang sebelum maut menjemput. Namun aku tak tahu bagaimana dan kapan kau akan datang. Itulah yang membuat rasa penasaranku begitu menggebu dan membuatku khawatir rasa penantianku malah diselimuti nafsu. Semoga saja aku dan dirimu terlindung dari hasrat yang menipu.

Dalam doa aku berharap jodoh dan menjadi jodoh yang terbaik. Tak kusebut nama dalam doa karena aku tak tahu siapa jodohku. Bisa saja engkau, dia atau siapapun itu. Berharap mendapat jodoh yang terbaik bukan sekedar menyebut nama dalam doa. Namun menjadikan diri sebagai jodoh yang terbaik pula. Memantaskan diri dalam penantian dan pencarian jodoh sejati. Jodoh sejati? Ah jujur saja aku tersenyum simpul saat menuliskannya. Tersenyum karena malu sekaligus senang atau lebih tepatnya karena geregetan.

Obrolan tentang jodoh sejati yang kerap berseliweran di antara tulisan di dunia maya ataupun goresan tinta, membuatku bertanya-tanya tentang makna jodoh sejati itu. Apakah jodoh sejati tak mungkin berpisah meski kematian datang? Apakah jodoh sejati selalu datang belakangan? Lalu, bagaimana dengan orang yang berpisah padahal sebelumnya ia yakin telah bersama jodoh sejatinya? Itulah romantika jodoh. Mengundang banyak pertanyaan namun tetap diidam-idamkan. Mengidamkan jodoh yang bernilai tinggi tentunya perlu memantaskan diri.

Hari demi hari aku lalui dalam pemantasan diri. Aku harap kau sedang memantaskan diri pula untukku. Meskipun kadang aku merasa tak pantas untuk dipantaskan. Bisa saja kau memantaskan diri jauh melebihi kepantasanku untuk dirimu. Hingga akhirnya Allah menjodohkanmu kepada pria yang lebih pantas dariku. Mungkin justru aku yang melebihi kepantasanmu. Ah sudahlah, tak perlu aku merasa lebih tinggi dalam memantaskan diri. Aku takut segala upaya dalam pemantasanku ini tak diridhai Allah karena terjebak ketinggian hati.

Menengok hati membuatku merasa was-was, bahwa pemantasan diri ini dapat membelokkan niatku dalam beribadah dan perbaikan diri. Aku khawatir segala niat yang telah kusandarkan untuk Sang Rabb, seketika berbelok untuk kepantasan kepada sang jodoh. Apakah kau merasakan hal yang sama wahai jodohku? Semoga Allah selalu menetapkan kita pada niat yang lurus. Segala kebaikan dan peribadatan hanya untuk-Nya. Begitu pula dalam menjemput jodoh karena-Nya dan dengan cara yang diridhai-Nya.

Usiaku telah memasuki awal dekade kedua, semestinyalah aku memapankan diri. Bukan sekedar mapan secara harta, tapi juga secara spiritualitas, intelektualitas, mentalitas dan emosionalitas. Meskipun aku sadar sekuat apapun aku memapankan diri, kekurangan tetap menjadi bagian dari diriku. Untuk itulah aku meminta padamu wahai jodohku. Jangan hanya melengkapi kekuranganku. Tapi jadilah keindahan yang membuatku tak merasa kurang. Maka aku akan melebihkan keindahanmu wahai jodohku.

Pesan Terakhir

Saat tiba waktunya untuk aku mendatangimu, aku tak ingin berada disampingmu. Bukan, bukan karena aku tak ingin mendampingimu. Namun aku akan berada di depanmu karena aku adalah imammu. Aku tak ingin hanya menjadi sekedar pendamping. Lebih dari itu aku ingin menjadi pemimpin dan pembimbing. Walaupun aku tetap membutuhkan nasehat dari bibirmu, karena seorang pemimpin tetaplah manusia yang bisa berbuat salah.

Wahai jodohku, aku berusaha mencintaimu di jalan Allah dan kuharap kaupun begitu padaku. Aku mendambakanmu bukan hanya karena cinta, tapi aku berharap kau dan aku melangkah ke surga bersama. Untuk itulah aku tak menempuh cara yang tak diridhai-Nya. Aku tak ingin menjebak cintaku dalam hawa nafsu. Aku ingin kita bersatu karena-Nya, atas cinta-Nya dan ridha-Nya, tentu dengan jalan yang dihalalkan-Nya. Jodoh bukan hanya soal perkara cinta dua manusia. Lebih dari itu jodoh yang kuharapkan membentuk cinta segitiga, antara aku, engkau dan Sang Pencipta.

“Jika menikah hanya karena cinta, maka dimana letak iman dan taqwa?”
— Umar Bin Khattab

Sekedar Tambahan

Coba kau rangkai tiap huruf di awal 7 paragraf teratas. Maka kau akan menemukan JODOHMU. Iya JODOHMU, yang kuharap itu adalah aku. Sekian dan sampai jumpa hingga waktunya tiba.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s