Cinta Hanya Memiliki Cinta

“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”
— Khalil Gibran

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai kepanjangan dari catatan sebelumnya Lika-liku Cinta. Yah cinta memang berlika-liku melebihi lika-liku jalanan perkotaan. Selalu membuat para penikmatnya bertanya-tanya bagaimana cinta itu tumbuh dan di mana akan berlabuh. Cinta sering membuat terlelap para penikmatnya hingga terbuai dalam nina bobonya. Cinta pula yang membangunkan jiwa kelam dari kegelapan yang mencekam.

Banyak orang bertanya apakah cinta harus memiliki atau tidak harus memiliki. Pertanyaannya kemudian, apa yang harus dimiliki? Apakah sekedar raga manusia atau pertautan hati? Memiliki raganya tak berarti memiliki cintanya. Memiliki hatinya belum tentu bersama cintanya. Cinta memang ada di dalam hati, tapi kedudukan hati berada di bawah cinta itu sendiri.

Memiliki atau Tidak Memiliki

Seringkali diri merasa, bahwa pertanyaan “Apakah cinta harus memiliki atau tidak harus memiliki?” itu tak relevan. Bahkan cenderung menjadi sebuah pemaksaan terhadap pilihan, karena cinta bukan soal kepemilikan. Cinta memang lebih sempurna dengan memiliki. Namun cinta tetaplah sempurna meski tidak memiliki, karena cinta merupakan kesempurnaan cinta itu sendiri. Cinta tetap sempurna meski tanpa memiliki. Namun bukan berarti cinta tak berhak memiliki.

Mengapa cinta harus memiliki? Bukankah cinta terkait keikhlasan? Ikhlas mendapatkan, ikhlas memperjuangkan, ikhlas pula merelakan atas nama Tuhan. Bukan pemaksaan kehendak atas nama cinta meski cinta kerapkali memaksa. Cinta memaksa manusia untuk tunduk padanya. Mengorbankan banyak hal agar cinta tetap terjaga.

Mengapa cinta tidak harus memiliki? Bukankah cinta menimbulkan hasrat untuk memiliki? Rasanya itu bukan cinta, melainkan nafsu belaka. Cinta memiliki bukan karena ingin memiliki seperti barang yang dibeli. Cinta memiliki agar cinta yang disemai akan terus bersemi. Menjaga kesuciannya dari segala noda dan pengkhianatan. Bukan memiliki atas nama cinta namun sejatinya melawan perintah Tuhan.

Cinta dan Hati

Banyak jiwa yang rela berkorban atas nama cinta. Membuat hati terluka tak peduli apakah akan berakhir suka maupun duka. Memperjuangkan cinta agar terus bertahta di singgasananya. Cinta memang unik, laksana matahari tenggelam di ufuk senja. Pergi dengan menggoreskan keindahan di antara terang dan gelap. Menghilang sesaat lalu kembali di waktu yang tepat.

Tak jarang cinta dikambinghitamkan sebagai penyebab sakitnya hati. Mudah manusia mengatakan bahwa cinta menyebabkan sakit hati. Namun sulit untuk memahami bahwa cinta tak pernah menyakiti. Manusia patah hati bukan karena cinta menyakiti tapi cinta yang tersakiti membuat hati ikut merasa perih.

Cinta itu suci, mana mungkin hal yang suci tega menyakiti. Hati merupakan singgasana cinta, bagaimana mungkin cinta merusak singgasana tempatnya bertahta. Cinta yang ternoda itulah alasan dibalik hati yang terluka. Cinta memang kerap melumpuhkan logika namun bukan berarti cinta selalu menjadi tersangka di balik setiap peristiwa berbalut duka.

Bagi sebagian orang cinta dianggap hanya manis awalnya pahit pada akhirnya. Benarkah cinta memiliki akhir? Jika iya mengapa pahit yang dikoarkan seolah manis hanyalah pelengkap dalam garis takdir? Cinta berproses tiada henti, melewati taman-taman indah hingga bukit bebatuan yang terjal. Manis dan pahit sudah menjadi satu paket tak terpisahkan. Jika tak ingin merasakan pahit maka jadilah kepahitan itu sendiri. Cinta takkan sudih menempatkan diri pada kepahitan, meski rasa pahit kadang cinta berikan sebagai bagian dinamika percintaan.

“Cinta hanya memiliki cinta, tak peduli sang jiwa sendiri atau bersama. Bisa saja sang jiwa tak memiliki cinta, sebaliknya cinta yang menggenggamnya. Begitu pula dengan diriku yang terlarut dalam lantunannya. Entah aku yang melarutkan cinta dalam nafasku ataukah cinta yang melarutkan diriku dalam perjalanan waktu.”
— Aksara Nomaden

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

One thought on “Cinta Hanya Memiliki Cinta”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s