Lika-liku Cinta

“Cinta itu indah, namun lemahnya manusia membuat diri manusia itu sendiri sulit membedakan antara cinta dan nafsu, dan banyak manusia terjerumus di dalamnya.”
— Ibnu Qayyim Al- Jauziyah

Cinta tak seperti hujan. Ia datang tanpa aba-aba maupun tanda-tanda. Tak ada manusia yang dapat menduga, tak ada makhluk yang dapat menerka. Betapa cinta penuh kejutan, hadir tak memandang siapa kawan siapa lawan. Membawa khayalan ke dalam pikiran, memberi angan bagi jiwa yang terlena rayuan. Cinta berlindung dalam dekapan tak ingin pergi meski hanya satu langkah berjalan. Khawatir diculik oleh waktu yang bergerak perlahan serta ditikam dengan pengkhianatan.

Cinta bernafas dalam setiap derap langkah para penikmatnya. Dalam putaran detik beriringan dengan rotasi bumi yang memunculkan siang dan malam. Gelap menjadi terang, terang menjadi temaram. Dingin berubah panas, panas berubah sejuk. Burung-burung bermigrasi berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Berarakan melintasi langit mengembangkan sayap melintasi cakrawala.

Dunia semakin menua dengan sesak dan dinamikanya, bersamaan dengan cinta yang kian hari semakin sering bersembunyi. Mungkinkah cinta ingin beranjak dari singgasana hati? Entahlah, yang terasa hanyalah sunyi dalam sepi meski raga tak sendiri. Khawatir cinta berlalu pergi bukan karena ia akan mati. Namun karena hati yang ternodai akan kekotoran nafsu membuat cinta tak sudih menempatkan diri kembali.

Cinta Bukan Kepemilikan

Apakah cinta tak harus memiliki berarti frustasi? Cinta bukan soal memiliki, cinta bukan soal membutuhkan. Cinta hanya mencintai dirinya sendiri, tak peduli manusia memiliki atau berlalu pergi. Cinta tak akan pergi meski akhirnya daksa dijemput maut. Tak akan peduli meski berlalu-lalang dengan mobil butut.

Jika cinta sebatas memiliki dan tidak memiliki, kemana cinta pergi setelah raga mati? Jika cinta sebatas membutuhkan dan dibutuhkan, dimana cinta berada saat jiwa dalam kesendirian? Cinta bukanlah barang yang dapat diperjualbelikan lalu mutlak dijadikan barang kepemilikan. Cinta bukan pula soal kebutuhan karena manusia pasti membutuhkan meski cinta dinafikkan.

Cinta tidak membutuhkan konklusi dari narasi liar yang diskenariokan hati. Ia merupakan perjalanan dari suatu hakikat asbtrak jiwa yang terjebak dalam dikotomi pikiran logis dan perasaan yang tak berkonstruksi. Menempatkan diri dalam peperangan antara logika dan perasaan. Dijadikan titik tolak untuk berlari mengejar angan.

Tak perlu membatasi cinta dengan angan, meski cinta membuat diri semakin berangan-angan. Tak perlu membodohi cinta dengan khayalan, meski cinta membuat otak terperosok dalam khayalan. Biarkan cinta bernafas dalam kenyataan meski pahit yang dirasakan. Biarkan cinta bergerak dalam keridhaan Tuhan agar maslahat yang didapatkan. Bukan menganggap cinta manis dalam kefanaan, bukan mengaku mengejar cinta padahal nafsu setan.

“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”
— Khalil Gibran

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

2 thoughts on “Lika-liku Cinta”

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s