Ambivalensi Ketaatan dan Kebejatan

Entah bagaimana jadinya jika diri ini hidup tanpa petunjuk Tuhan. Mungkin diri yang rendah ini akan menjadi bajingan yang terperangkap romantika perbudakan dalam lingkaran setan. Pikiran semakin tenggelam dalam bayang masa lalu yang kelam. Jiwa menjadi hina dan semakin hina karena memperturutkan hawa nafsu yang terus dipuja. Dunia seakan surga yang tak mungkin musnah meski berujung pada kubangan neraka yang menciptakan tangisan darah.

Tuhan selalu memberi petunjuk bagi makhluk yang dikehendaki-Nya, baik untuk si bejat maupun si taat. Petunjuk yang berbentuk teks suci dalam kitab, hal-hal ghaib yang tak dapat dibuktikan secara empiris seperti ilham dan segala kejadian yang terjadi dalam ruang lingkup kausalitas. Berbagai hikmah yang menjadi petunjuk itu kerapkali muncul baik secara tersirat maupun tersurat. Namun seringkali jiwa tak menyadari karena telah diperdaya nafsu yang membutakan hati.

Melalui petunjuk si bejat bisa menjadi taat. Melalui petunjuk si taat semakin teguh dan yakin dengan jalan yang membuatnya selamat. Tanpa petunjuk si bejat akan semakin terperosok ke dalam kebejatannya. Hati kian menghitam hingga tak tersisa setitik putihpun sebagai nur yang menerangi jalan. Tanpa petunjuk si taat kelak akan bertransformasi menjadi bejat secara cepat atau lambat. Berbagai pahala gugur, ibadah sia-sia dan penyesalan yang dirasa pada akhirnya.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah diri ini bejat? Bagaimana mungkin berbuat bejat sedang diri takut dengan murka-Nya!? Apakah diri ini taat? Bagaimana mungkin dianggap taat sedang jiwa bergelimang maksiat!? Ah pertentangan ini begitu menyiksa batin. Seakan-akan tulang dan daging berpisah tak ingin merekat kembali. Saling menyalahkan atas berbagai kebodohan yang dilakukan.

Acapkali petunjuk yang Tuhan berikan disia-siakan. Tak jarang diacuhkan. Sungguh terlampau bodoh! Iya bodoh. Betapa bodohnya menyia-nyiakan nikmat petunjuk Ilahi demi dunia yang tak akan dibawa mati. Betapa bodohnya membunuh logika, demi nafsu yang membawa diri pada nikmat yang fana. Kebodohan yang sengaja maupun tak disengaja menimbulkan lubang dosa yang kian menganga.

Di sisi lain, kadang petunjuk Tuhan begitu nikmat dirasakan. Membuat hati bergetar, tubuh gemetar dan otak semakin segar. Air mata mengalir bersama aliran dosa yang membawa hanyut jiwa yang hina. Mengingat dosa dan mati dalam satu paket sungguh dunia tak lagi berarti. Dalam pikiran mata menatap bara api sedang menyelimuti diri, tubuh disiksa hingga terbelah, darah bercipratan, otak hancur dan air mendidih meluluhlantakkan organ dalam tubuh. Begitulah neraka memperlakukan hamba-hamba yang kotor.

Begitu kejamkah Tuhan menyiksa ciptaan-Nya? Oh Tuhan tidak pernah kejam. Hambanya yang sering terpejam atau mungkin sengaja terpejam. Membutakan mata hati terhadap perintah dan kekuasaan Sang Ilahi. Ditawari surga lebih memilih neraka. Manusia yang memilih, seperti ketaatan dan kebejatan yang merupakan pilihan. Namun sayang yang kerap dipilih berujung pada penderitaan, hingga timbul penyesalan atau justru menyalahkan Tuhan atas segala kebejatan.

Ketaatan dan kebejatan memang tak mungkin bersatu sebagaimana bertilawah dan berzina tak mungkin menyatu. Sebagaimana pula surga dan neraka tak mungkin bercampur menjadi satu. Masing-masing dipisahkan oleh berbagai ketentuan Tuhan. Ketentuan itu pula yang mendikotomikan jalur ketaatan dan kebejatan. Meskipun keduanya kerap dilakukan secara sadar maupun tanpa disadari yang menimbulkan kontradiksi antara bisikan malaikat dan godaan setan penuh ilusi.

Entah sampai kapan diri terjerat ambivalensi . . . . .

Wahai Tuhanku aku bukanlah ahli surga
Namun aku tidak sanggup dengan panasnya api neraka
Maka anugerahkanlah taubat dan ampunilah dosaku
Karena sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun

Dosaku sebanyak pasir lautan
Maka anugerahkanlah taubat Wahai Dzat Yang Maha Mulia
Dan usiaku semakin berkurang setiap hari
Sedangkan dosaku semakin bertambah
Bagaimana aku memikulnya?

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa datang kepada-Mu
Yang berlumuran dengan dosa dan memohon kepada-Mu
Jika Engkau mengampuniku karena memang Engkau Yang Maha mengampuni
Jika Engkau menolak (taubatku) maka siapa lagi yang bisa diharapkan kecuali Engkau?

~ Abu Nawas ~

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s