Berawal dari Cuma

Cuma berpandangan menjadi berpegangan
(Cuma sampai disini atau lanjut? Ah masa Cuma begini saja?)
Cuma berpegangan menjadi berpelukan
(Cuma sampai disini atau lanjut? Ah masa Cuma begini saja?)
Cuma berpelukan menjadi berciuman
(Cuma sampai disini atau lanjut? Ah masa Cuma begini saja?)
Cuma berciuman menjadi penjamahan
(Cuma sampai disini atau lanjut? Ah masa Cuma begini saja?)
Cuma penjamahan menjadi perzinahan
(Cuma sampai disini atau lanjut? Ah masa Cuma begini saja?)
Cuma perzinahan menghasilkan kandungan
(Percuma?)

Cuma, Cuma dan Cuma. Kata yang sederhana, entah dapat disederhanakan kembali atau tidak. Kerap diremehkan namun mengakibatkan hal yang tak diharapkan. Memang tak semua Cuma berujung penderitaan. Tak semua Cuma berujung kematian. Namun, banyak Cuma dimulai dengan hal yang disepelekan. Banyak Cuma yang menghasilkan penyesalan. Setelah Cuma ada pilihan ingin lanjut atau berhenti. Andaikan Cuma tak berlanjut Cuma, mungkin tak akan berakhir percuma. Namun mudah manusia mengikuti Cuma, hingga masanya penyesalan menjadi percuma.

Adakah akhir dari kata Cuma? Entahlah. Mungkin Cuma akan berakhir setelah kematian datang sebagai takdir. Mungkin Cuma akan pergi ketika hati mendekati Ilahi. Yasudahlah ini Cuma tulisan toh? Tulisan cuma-cuma. Dimulai dengan Cuma yang semoga tak berakhir dengan percuma.

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s