Emansipasi, Kebebasan Berujung Kebablasan

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”
(QS. Ali Imran [3] : 195)

Hingar bingar “Kartinian” pada tanggal 21 april tentu tak asing untuk memperingati hari Kartini. Sosok Kartini ini dijadikan simbol gerakan emansipasi. Pertanyaannya kenapa mesti Kartini? Bukankah banyak sosok wanita lain yang juga berpengaruh? Lagipula andaikan Kartini masih hidup, yakinkah bahwa dia rela dijadikan simbol emansipasi masa kini? Toh apa yang diperjuangkan wanita sekarang sudah berbeda jauh dengan apa yang (katanya) diperjuangkan Kartini di masa lalu. Perjuangan yang menitikberatkan pada kebebasan kini banyak yang berujung pada kebablasan. Bablas menabrak batasan hak seorang wanita baik dalam agama maupun norma.

Allah menciptakan pria dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik inilah yang menimbulkan perbedaan pula dalam peran dan tanggung jawab. Mirisnya perbedaan ini kerapkali diartikan ketidakadilan terhadap kaum wanita. Memangnya tidak adil dari segi apa? Adil tidak harus sama tetapi memposisikan sesuatu pada tempatnya, serta memberikan sesuatu menurut kadar kebutuhannya.

Sebagian orang yang mengatasnamakan emansipasi memandang dikotomi peran dan tanggung jawab ini hanya dari kacamata gender. Wanita ingin disamakan dengan kaum pria. Memangnya wanita sama dengan pria? Wanita merasa dibedakan dengan kaum pria. Bukankah pada dasarnya wanita dan pria berbeda? Tak pantas memandang perbedaan sebagai penindasan. Setiap manusia memiliki porsi masing-masing dalam kehidupan. Setiap pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban, dua hal inilah yang patut ditekankan bukan pengkerdilan kodrat wanita atas nama kesetaraan.

Berbicara mengenai posisi wanita, hampir semua orang pasti familiar dengan kalimat “Surga di telapak kaki ibu”. Apakah pantas kaum pria berkata bahwa Tuhan tidak adil menempatkan surga hanya di telapak kaki ibu bukan ayah? Meskipun kalimat itu hanya kiasan, tetapi sudah cukup menggambarkan betapa posisi wanita begitu tinggi. Belum lagi Rasulullah dalam sabdanya menyatakan bahwa ibu yang notabene seorang wanita harus didahulukan dibanding ayah.

Kita juga pasti tidak asing dengan istilah “ladies first” dimana wanita didahulukan untuk banyak hal. Apa kaum pria pantas merasa terdiskriminasi dengan hal ini? Siapapun tahu bahwa memang pada tempatnya untuk mendahulukan wanita dalam berbagai hal. Tapi ketika pria memimpin dalam banyak hal mengapa sebagian kaum wanita merasa terdiskrimnasi? Seharusnya mereka paham memang pada tempatnya untuk memposisikan pria sebagai seorang pemimpin sepanjang layak untuk memimpin.

Kaum wanita tentu berhak menuntut kebebasan dalam mendapatkan dan melakukan apa yang menjadi haknya. Tentunya hak yang berbanding lurus dengan kewajiban. Namun ketika apa yang dituntut menjadikan wanita lalai terhadap kewajibannya, itu bukan lagi menuntut kebebasan tapi kebablasan. Sejatinya hak itu membawa kemaslahatan sedangkan bablas (berlebihan) membawa kemudharatan. Sayangnya kebablasan inilah yang justru diagung-agungkan.

Hak dan Martabat

Gerakan emansipasi dikenal memperjuangkan hak wanita. Pertanyaannya hak seperti apa yang diperjuangkan? Hak seluruh wanita atau hak yang “pilih-pilih”? Ketika ada larangan berhijab di suatu institusi, pejuang emansipasi tiba-tiba bisu tak memberikan respon atau melakukan pembelaan. Padahal berhijab merupakan hak wanita dan kewajiban dalam Islam. Tentu responnya akan jauh berbeda jika yang dilarang itu rok mini, mereka akan “membela” mati-matian rok mini dan berkata bahwa otak prialah yang mini bukan roknya.

Emansipasi juga dianggap memperjuangkan martabat wanita. Tapi mengapa tidak memperjuangkan para pelacur agar mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan bermartabat? Mengapa banyak pelacuran yang jelas menjatuhkan martabat wanita malah didiamkan? Bukankah memperjuangkan mereka itu lebih penting dari sekedar berjuang agar dapat berpakaian minim atau meniti karir hingga menitipkan anak pada pengasuh? Jadi martabat wanita seperti apa yang diperjuangkan jika jelas-jelas pelacuran yang menjatuhkan martabat saja dibiarkan.

Sebagian wanita sangat bersemangat dalam berteriak lantang mengenai hak dan martabat. Lalu seberapa besar semangat mereka dalam menjalankan kewajibannya sebagai wanita? Seberapa lantang menentang diskriminasi dan dominasi wanita terhadap wanita lainnya? Faktanya banyak diantara wanita yang tidak menghargai kaumnya sendiri dan malah saling merendahkan sesama kaum hawa. Mencibir gaya berpakaian wanita lain yang dipandang norak atau ketinggalan zaman, merendahkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga, sampai berebut kursi di transjakarta atau gerbong kereta khusus wanita. Menghargai kaum sendiri saja tak bisa, tapi selalu menyalahkan kaum pria atas segala isu yang ada.

Perlukah Emansipasi?

Banyak tokoh wanita hebat yang dapat dijadikan inspirasi, tidak hanya berteriak emansipasi. Di masa lampau ada Siti Khadijah yang dikenal sebagai pengusaha kaya. Siti Aisyah perempuan cerdas sekaligus istri Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadits. Cut Nyak Dien seorang pahlawan yang tangguh dalam melawan penjajah. Kemudian menengok wanita masa kini ada Fahira Idris yang terkenal dengan gerakan anti mirasnya, Asma Nadia yang dikenal sebagai jilbab traveler dan penulis. Jadi pertanyaannya sekarang, apakah wanita benar-benar membutuhkan emansipasi? Atau justru gerakan emansipasi yang membutuhkan wanita agar gerakan ini dapat terus bergerak? Toh wanita tetap bebas berpikir dan bergerak meski tanpa emansipasi yang hanya ramai diperbincangkan setahun sekali.

Jadilah wanita sebagaimana wanita. Jadilah wanita yang disegani pria karena kepercayaan diri. Bukan berharap disamakan dengan pria karena ingin menandingi. Tidak perlu menyamakan wanita dengan pria, karena Allah saja menciptakan Adam dan Hawa dengan ciri khas yang berbeda. Tidak perlu menyetarakan wanita dengan pria, karena Allah menciptakan Adam dan Hawa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing serta menempatkan pada jalur yang sesuai kodratnya.

Wanita itu hebat tanpa perlu disamakan dengan pria. Wanita itu kuat tanpa perlu pengakuan dari pria. Wanita itu mengagumkan dengan keindahannya, kelembutannya, keanggunannya dan keteguhan hatinya. Apa jadinya jika wanita menyalahi kodratnya? Hilanglah bidadari dunia, hilanglah pendidik terbaik bagi penerus generasi bangsa.

“Kartini oh Kartini. Sejarah yang diperbudak segelintir manusia jalang untuk hak kebablasan berkamuflase kebebasan. Mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa Kartini tidak pernah mengajarkan wanita untuk menelantarkan buah hati atas nama mengejar gaji. Kartini tidak pernah berpenampilan seksi di hadapan para lelaki. Kartini tidak pernah mengajak pada kebablasan atas nama emansipasi.”
— Aksara Nomaden

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s