Hijab, Antara Syariat dan Tren

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(Q.S. Al-Ahzab [33] : 59)

Hijab menjadi sebuah tren tersendiri di kalangan muslimah masa kini. Hal yang patut disyukuri walaupun sebenarnya agak aneh ketika hijab menjadi sebuah tren, karena berhijab sebagai kewajiban seharusnya sudah menjadi hal yang lazim dilakukan terutama di kalangan muslimah tanpa perlu menjadi sebuah tren. Sayangnya meningkatnya popularitas hijab tidak sebanding dengan peningkatan akan pemahaman esensi serta nilai yang terkandung dalam hijab, karena tren itu lebih menonjol pada gaya berhijab dibanding hijab itu sendiri. Maka tak heran ketika ada wanita berhijab tapi berpakaian ketat atau memakai pakaian yang cenderung transparan.

Sebutan yang sering terdengar bagi hijab yang sedang naik daun ini dalam dunia per-hijab-an adalah hijab gaul, fashion hijab, hijab modis dan lain-lain. Mulai dari gaya punuk unta, hijab melilit-lilit, sampai gaya yang entah disebut apa. Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau menyalahkan, tapi sekedar meluruskan pemahaman terkait hijab dalam islam. Jangan sampai niat berhijab untuk ketaatan malah melenceng dari aturan. Mari belajar mengikuti yang benar bukan hanya yang tenar.

Semakin banyak hijab modis yang “mondar-mandir” di banyak tempat, mulai dari pengajian, pesta pernikahan, sampai pasar swalayan. Salah satu alasan dibuatnya beragam modifikasi hijab karena ingin menarik muslimah yang belum berhijab untuk mengenakannya. Niatnya memang tampak baik tapi niat baik saja belum cukup. Apa yang terjadi di lapangan banyak gaya hijab modis yang justru melenceng dari hakikat penggunaan hijab dan keluar dari aturan menutup aurat yang sesuai syariat.

Secara umum yang diketahui, penggunaan hijab yang tepat harus menutupi dada, tidak menonjolkan lekuk tubuh, tidak transparan dan sebagainya. Apa hijab modis mencakup semua hal diatas? Tidak juga. Kenapa? Hijab modis lebih mengedepankan kecantikan dibanding fungsionalitas dan esensinya. Allah sudah memberikan aturan terkait hijab dengan segala kemudahan dan kebaikan di dalamnya, lalu manusia membuat tren baru terkait hijab karena kecantikan dan perkembangan mode. Masing-masing bisa tahu mana yang lebih baik.

“Syar’i more than just mode. It’s our responsibility to Allah.”
— Anonym

Hijab yang sesuai syariat dikenal juga dengan sebutan hijab syar’i. Lalu ada yang beranggapan hijab syar’i ketinggalan zaman. Benarkah demikian? Disinilah salah satu kelebihan hijab syar’i yang bersifat timeless alias tak termakan waktu. Desainnya sederhana, karena lebih mengedepankan fungsi dibanding kecantikan dan tata rias. Cara pakainya juga sederhana, tak perlu dipelintir begini dipelintir begitu. Besok memakai hijab putih, lusa hijab putih hingga berhari-hari, model dan warnanya tak berbeda meski hijabnya berganti-ganti, apa terlihat aneh? Jelas tidak. Lagipula hijab syar’i tak membatasi warna hanya pada hitam dan putih.

Berpakaianpun semestinya untuk menjaga aurat bukan membungkus aurat. Aneh jadinya kalau pakai hijab tapi baju ketat sampai membentuk lekuk tubuh. Berpakaian tapi telanjang, kulit tertutupi tapi bentuk tubuh terlihat. Allah sudah memberikan standar baku berhijab sedemikian rupa, untuk apa? Untuk memudahkan bukan menyulitkan, untuk melindungi bukan mempercantik diri. Meski tanpa dimodifikasi secara “wah” hijab tidak membuat muslimah tampak buruk.

Berbeda dengan hijab syar’i, hijab modis secara tak langsung membuat perempuan terjebak dalam perkembangan mode. Tahun ini desain hijab yang sedang nge-tren model ini, tahun depan model itu, tahun berikutnya berbeda lagi dan seterusnya.  Pada akhirnya secara tak langsung kaum muslimah “dipaksa” mengikuti perubahan tren dalam berhijab, kalau tidak begitu dianggap ketinggalan mode. Mirisnya yang menganggap ketinggalan mode terkadang bukan orang lain, tapi si pemakainya sendiri.

“Sederhanalah dalam berhijab, ketaatan yang mencapai Allah, bukan gegaya dan mode | Jangan merumitkan, jangan menyusahkan diri”
— Felix Siauw

Lalu timbul pertanyaan, memang niat berhijab untuk mengikuti perkembangan mode atau menjalankan perintah Allah? Kalau berhijab niatnya karena Allah kenapa mesti risau kalau berhijab tak sesuai mode? Kegundahan semestinya muncul ketika hijab tak sesuai syariat bukan tak sesuai tren, karena Allah memerintahkan berhijab untuk mengikuti syariat bukan mengikuti tren. Kalau ada yang gampang buat apa ambil yang ribet. Kalau yang sederhana lebih baik buat apa ikut yang rumit.

Tak perlulah repot-repot memodifikasi hijab secara heboh hanya karena ingin terlihat cantik. Cantik di mata manusia belum tentu cantik di mata Allah. Wanita ingin terlihat cantik itu wajar, memang sudah menjadi kodratnya ingin tampak cantik. Namun mempercantik diri bukan berarti boleh berlebih-lebihan dan menyimpang dari aturan. Sebaik-baik kecantikan wanita, kecantikan terbaik yang hanya ditampakkan pada suami. “Tapi Allah menyukai keindahan, jadi tak masalah model hijabnya dibuat lebih indah?”, benar memang Allah menyukai keindahan, tapi keindahan yang selaras dengan perintah-Nya. Benar memang Allah menyukai keindahan tapi Allah lebih suka melihat hambanya menjalankan kewajiban. Apalah arti keindahan dan kecantikan tapi kewajiban dipinggirkan.

Ada yang beranggapan “Daripada tidak berhijab sama sekali lebih baik berhijab modis!”. Kenapa harus memilih di antara dua hal yang kurang baik sedangkan ada hijab syar’i yang lebih baik? Daripada tidak berhijab sama sekali lebih baik berhijab syar’i kan!? Ada juga yang berkomentar “Mending ga usah berhijab deh daripada berhijab tapi baju ketat!”. Kalau kurang baik tambahkan baiknya, bukan buang semuanya. Kalau belum sepenuhnya tepat dalam berhijab, diperbaiki lagi cara berhijabnya bukan malah melepasnya. Ibarat seorang pelajar yang kurang tepat dalam memakai atribut seragam. Bukan berarti si pelajar lebih baik tidak memakai seragam sama sekali bukan!?

Sekali lagi, mari kita ikuti yang benar bukan cuma yang tenar. Kalau yang tenar itu benar silahkan ikuti. Jika yang tenar itu keliru mari koreksi. Berhijab syar’i memang baiknya dari hati, tapi sampai kapan akan menyiapkan hati karena manusia pasti mati. Mungkin berhijab modis dijadikan sebagai langkah awal atau proses untuk berubah menjadi syar’i, karena bagi sebagian orang bukan perkara mudah untuk langsung berubah. Namun pertanyaannya sampai kapan? Kalau berproses tanpa ada perubahan signifikan ya sama saja. Kalau benar-benar berubah ya syukur alhamdulillah.

Niatkan berhijab syar’i karena Allah, insya Allah dimudahkan dan diteguhkan. Allah mencintai hambanya yang bersungguh-sungguh melaksanakan perintahnya bukan? Pada akhirnya berhijab mengikuti tren atau syariat itu kembali kepada pilihan masing-masing. Lebih memilih hijab modis dipersilahkan, memilih hijab syar’i tentu lebih diutamakan. Intinya saling dukung serta mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran jangan sampai ribut karena beda hijab, karena sudah jelas mana yang lebih baik untuk diikuti dan yang lebih Allah ridhai. Terus kalau masih ada yang bilang “Hijab itu ga penting, yang penting hatinya”, baiknya baca ini juga → Wanita Berhijab Belum Tentu Benar? Terima kasih dan mohon maaf jika ada salah kata. Wallahu a’lam bishshawab.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya . . . . ’”
(QS. An-Nur [24] : 31)

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

5 thoughts on “Hijab, Antara Syariat dan Tren”

  1. Setuju.. Bnget.. Bro. Buat ap berhijab tpi bukan karena Alllah SWT. Makanya sesama muslim harus saling mengingatkan dan jgn bosan2 terus mengingatkan..

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s