Hipokrit Dalam Gelap

Berwajah dua, berbeda apa yang tampak dan tersembunyi. Tidak sama antara perkataaan dan perbuatan, berbeda antara yang tertera dalam hati dengan apa yang keluar dari lisan. Bicara seolah memuji, dalam hati tak ada ruang yang tersisa selain benci. Pembenaran yang didorong rasionalisasi nafsu dalam diri mengubah kebenaran menjadi barang langka yang patut dimuseumkan atau bahkan dimusnahkan. Kemunafikan menjamur tak kenal musim. Sebagian manusia tak ingin menjadi munafik seorang diri atau tak rela kemaksiatan diperangi, menyebut munafik kepada orang yang memerangi kemaksiatan. Bagaimana jika memerangi kemaksiatan dengan cara yang munafik? Sama saja seperti memakai air kencing kerbau untuk membersihkan pakaian yang tersiram air kencing kuda. Lalu bagaimana dengan orang munafik yang tak rela kemaksiatan diperangi? Ya itulah mereka sesungguhnya.

“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun [63] : 2)

Bagi sebagian orang hal yang tidak menyenangkan jika harus berhadapan dengan orang munafik. Sebenarnya ada yang lebih tidak menyenangkan bahkan lebih menakutkan dari itu, yakni menjadi bagian dari kemunafikan itu sendiri atau menjadi seorang hipokrit tanpa disadari. Sengaja maupun tidak, bisa saja diri ini pernah menjadi seorang hipokrit meski hanya sesaat. Terjebak dalam kegelapan dimana hanya bisa meraba-raba tanpa menyadari bahwa kegelapan itu bukan karena tiada cahaya. Namun mata hati yang tertutup oleh pembenaran yang menutupi kebenaran sesungguhnya. Bermain logika dan kata untuk menabrak realita serta nurani yang kian merana. Menyajikan kalimat indah yang membujuk akal untuk menikmatinya. Sejatinya racun yang perlahan membunuh intelektualitas dan mentalitas hingga bermuara pada kebobrokan moralitas karena ambruknya spiritualitas.

Zaman sekarang dimana kebenaran tersesat atau mungkin dibuat tersesat di pedalaman hutan. Terasing dalam keheningan, kesendirian, kegelapan, serta terancam oleh buasnya predator yang siap menerkam. Kerapkali ia muncul di balik rimbunnya pepohonan dengan wajah pucat sambil melambaikan tangan yang semakin lama semakin lemah gerakannya. Lambaian tangan yang menyiratkan duka mendalam, betapa ia merasa tersiksa dan terpenjara. Berharap pertolongan datang untuk menarik dirinya dari kepedihan. Berulang kali ia berteriak sekuat-kuatnya lalu mengucurkan air mata yang begitu deras. Namun hanya gema suara yang menjawabnya. Kini ia hanya dapat menunggu dalam waktu yang berlari kian jauh. Hingga akhirnya tenggelam dalam gulita sambil berharap akan kembali di saat yang tepat.

“Tidak ada yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.”
— Hasan Al-Bashri

Kejujuran semakin terpisah dari jiwa setiap insan, kemunafikan semakin melekat kuat. Semahal apapun sikap jujur terhadap orang lain, tidak dapat menafikan mahalnya kejujuran terhadap diri sendiri. Membohongi diri sendiri dengan melegitimasi setiap tindakan keluar dari hati nurani. Hati yang bagaimanakah? Hati yang sejalan dengan iman atau membangkang dari aturan Tuhan? Persoalan kemunafikan memang tak lepas dari hati, karena memang itulah pangkalnya. Sejauh mana kita menjaga hati agar tidak terjerumus ke dalam jurang pembodohan. Iya pembodohan, membodohi diri dengan arogansi menganggap diri lebih suci. Sepatah kata putih diungkapkan, setitik rasa suci dimunculkan. Lalu terjebak dalam ambiguitas merasa lebih pantas dalam hati yang tak ikhlas.

Tuhan paling tahu siapa yang benar, namun tak berarti manusia tidak tahu apa yang benar. Benar tetaplah benar meski banyak yang meninggalkan, salah tetaplah salah meski banyak yang melakukan. Namun tak jarang kebenaran ditutup-tutupi demi hawa nafsu yang kian tak terkendali. Lalu kesalahan dimaklumkan dengan kelihaian melakukan pembenaran. Mungkin juga raga menampakkan kebenaran tapi hati mengingkarinya dengan penuh kebencian. Bisa pula rajin beribadah di depan kawan, lalu mengikuti godaan setan dalam kesendirian. Hal yang kadang atau bahkan sering terlupakan yakni menengok hati. Lalu mengkorelasikannya dengan pikiran, lisan dan perbuatan. Semoga Allah selalu melindungi diri dari kemunafikan yang mengintai hati.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”
(QS. At-taubah [9] : 67)

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s