Hujan Tersayang, Hujan Yang Malang

Awan-awan menghitam jalan berarakan
Bergelantungan menyesaki langit yang kelam
Didorong hembusan angin yang berlarian
Rongrongan petir bersahutan
Menuntut hujan segera ditumpahkan
Guratan cahaya menangkap semesta
Sekejap menyilaukan bumi seisinya

Angin berlari-larian menulusuri jiwa
Menghempaskan diri pada beton dan baja
Jutaan rintik airpun berdatangan
Bergerombol menyerang kegersangan
Menghujam hati yang penuh kebimbangan
Melunakkan kerasnya duka dunia
Bagaikan tangis berkepanjangan

Semua wajah terpaku menatapnya
Membiarkannya jatuh bercipratan
Memecah diri lalu bersatu kembali
Mengalir deras di sepanjang jalan
Menyuburkan bumi di bawah genangan
Sungguh hujan sangat dielu-elukan
Meski terkadang pahit yang ia rasakan

Jutaan tetes air turun dari langit melepaskan bumi dari kerangkeng dahaga. Berawal dari evaporasi lalu melangkah menuju kondensasi. Awan bergelantungan diterpa angin, hingga akhirnya presipitasi terjadi. Menyerbu tanah dan debu, menembus udara yang perlahan membeku. Membentuk pasukan seolah siap menyergap siapapun yang menghadang. Menghujam tanah, bebatuan, atap-atap serta dedaunan tanpa pandang bulu. Menyejukkan hati yang kering kerontang dalam perjalanan waktu. Bibit-bibit tanaman berteriak kegirangan, sudah waktunya mereka melahap hujan untuk tumbuh subur di atas bumi Tuhan. Para binatang mengumandangkan auman berharap ini bukan hari terakhir hujan datang. Begitulah kedatangan hujan yang disambut riang makhluk-makhluk penghuni alam. Meski tak jarang hujan tidak dipedulikan atau disambut dengan kalimat jalang. Hujan tersayang, hujan yang malang.

Manusia, apa yang dilakukannya saat tetesan air bergerombolan turun ke bumi? Beberapa raga sibuk mencari tempat berteduh mempertahankan gaya rambut dan penampilannya agar tidak kebasahan. Manusia lainnya tak peduli apapun selain berceloteh di dalam ruangan dan membiarkan hujan lewat bagaikan angin di musim semi. Terburuk dari segala yang terburuk adalah beraninya manusia mengutuk hujan. Hujan datang bukan tanpa tujuan, bukan tanpa kemanfaatan. Hujan turun berdampingan bersama berkah yang Tuhan limpahkan. Namun hujan dikeluhkan oleh sebagian orang hanya karena tak terima jalanan menjadi penuh genangan, tanah menjadi becek, kendaraan menjadi kotor dan berbagai macam alasan. Lalu apa yang dapat menyuburkan bumi selain hujan? Mampukah manusia hidup tanpa hujan selama kehidupan? Wahai pengeluh hujan, wahai pencela hujan, jawablah!!!

(Doa ketika turun hujan)
Allahumma shayyiban naafi’aa
“Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.”
(HR. Al-Bukhari)

Tak jarang hujan dikambing hitamkan. Banjir terjadi lalu hujan dicaci maki. Jalan penuh genangan lalu hujan disalahkan. Sejatinya turunnya hujan merupakan waktu yang berharga untuk berdoa. Namun sebagian manusia lupa karena terlalu “hobi” mencelanya. Tak terbayangkah senyuman bahagia para bocah payung yang melihat hujan tiba sebagai rejeki yang datang tak terduga? Apa mungkin tak ingat bahwa hujan membuat polusi udara terkikis berganti udara bersih dan sejuk seperti mengubah tangis menjadi senyum yang manis? Itu hanyalah segelintir kisah indah dibalik rintikkan hujan. Masih banyak sisi indah lainnya yang justru tak sedikit manusia yang menafikkannya. Hingga akhirnya hujan merana dalam kesendiriannya. Dibutuhkan tapi merasa dihinakan.

Hujan menangis merasa teriris. Ia tak pernah meminta balas jasa, tak pernah pula berharap dipuji dan dipuja. Hatinya terluka atas caci maki manusia. Kehadirannya tak dihargai meski nyatanya Tuhan yang memerintahkan kedatangannya. “Mati saja kalian!!! Membutuhkanku tapi kerap mencaci maki diriku!!!”, mungkinkah kalimat ini yang dapat menggambarkan benaknya? Entahlah. Terlalu banyak beban yang ia tanggung dan manusia terlalu sering membuatnya tersinggung. Amarahnya yang memuncak mungkin terpampang dari petir yang menggelegar. Menghentakkan bumi dengan gemuruh serta kilatannya. Menggetarkan kaca jendela serta gendang telinga yang diselimuti kengerian akan gelegarnya. Peristiwa alam yang mengetuk hati betapa manusia bukanlah apa-apa, betapa manusia kecil tak berdaya. Namun setitik kesombongan membuat manusia berani mencela hujan yang turun atas kehendak-Nya.

“Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang di kehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
(QS. Ar-Rum [30] : 48)

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s