Spesial Itu Ibu, Bukan Hari Ibu

“Kamilah ibu para yatim. Kamilah ibu para piatu. Kamilah ibu mereka yang menderita. Kami ibu dari semua jejak yang membekas di tanah ini!”
— Helvy Tiana Rosa

“Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”. Sudah sering kita dengar kalimat barusan. Pertanyaannya, sudah seberapa dalam kita memaknai kalimat barusan? Apakah hanya ungkapan numpang lewat setahun sekali yang tak meresap? Memang benar adanya kasih sayang seorang ibu dalam ungkapan di atas. Malah bisa jadi tak dapat digambarkan dengan kata-kata secara utuh. Waktu, pikiran, harta, tenaga hingga nyawa telah beliau korbankan untuk kita anaknya. Lalu apa yang sudah kita korbankan untuk beliau? Jangankan berkorban untuk beliau, bisa jadi kita sendiri lupa atau justru berpaling untuk mengingat pengorbanan besarnya. Jangan-jangan malah mengorbankan kepentingan beliau demi keegoisan kita. Maafkan kami ibu.

Apakah ibu membutuhkan hari spesial? Sedangkan ibu sudah memiliki hari spesialnya sendiri. Hari ketika gelar ibu disandangnya pertama kali. Hari saat kita dilahirkan. Hari dimana untuk pertama kalinya kita menghadapi dunia dengan kerapuhan diri yang masih berlindung dalam dekapan bunda. Kita menangis dalam pelukannya, beliau melemparkan senyum hangatnya. Ah senyum yang takkan terulang dan senyum tertulus yang pernah diberikan. Senyum yang kini perlahan pudar, bukan karena lelah. Namun karena anak yang sering berulah. Tak jarang air matanya menetes karena kita. Entah dalam khusyuknya doa yang beliau panjatkan demi buah hatinya, entah karena kebodohan kita yang melukai perasaannya. Tetesan air mata yang lebih bernilai dari butiran mutiara. Tetesan air mata yang tak seharusnya terkuras karena ulah anaknya.

Ibu itu terlalu spesial, tak pantas hanya diberi satu hari dalam setahun untuk mengenang jasanya. Pengorbanan sepanjang masa, dirayakan sekali setahun yang esok hari tinggal cerita. Setiap tahun ramai orang merayakannya, tapi makin banyak pula anak yang membangkang kepada sang bunda. “Aku sayang ibu” berkata demikian disaat perayaan, lalu mengeluhkan ibu di hari lainnya. “Aku cinta ibu” diungkapkan dengan semangatnya, lalu menomorduakan ibu di waktu lainnya karena nomor satu ditempati pacarnya. Dimana esensi hari ibu jika tak membekas dalam kalbu? Untuk apa merayakannya jika kita sudah lupa bahkan tak peduli bahwa “surga di telapak kaki ibu”? Berkoar-koar di sosial media mengeluhkan sang bunda, hingga ada yang berani mencaci makinya. Oh betapa bunda tak habis sabarnya, keluhan anak dijawab dengan doa yang mudah dihijabah-Nya.

“Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.”
— Pramoedya Ananta Toer

Hari ibu, sebuah prasasti waktu yang semestinya tak hanya mengulas pengorbanan ibu tapi juga sebagai introspeksi sejauh mana kita berkorban untuk beliau. Seberapa sering kita membuatnya bahagia dibanding membuatnya sedih. Seberapa sering kita membantunya dibanding menyusahkannya. Kita memang tak akan sanggup membalas jasanya, tapi bukan berarti tak ada yang perlu dibalas. Pengorbanan kita memang tak seberapa dibanding pengorbanannya, tapi bukanlah alasan untuk tak berkorban. Ah ibu, dirimu anugerah terindah yang Tuhan berikan. Namun tak jarang kami sia-siakan, kami kecewakan, kami lupakan. Sungguh hati ini penuh penyesalan.

Tanpa hari ibu, ibu tetaplah ibu. Tanpa hari ibu, surga tak berpindah dari telapak kaki ibu. Tanpa hari ibu, ibu tetap pahlawanku, ibu tetap mencintaiku. Sungguh ibu lebih spesial dibanding hari ibu. Ibu tak membutuhkan hari ibu, tapi hari yang membutuhkannya. Tanpa ibu, tak ada hari ibu. Tanpa ibu, kemana ayah berlabuh? Tanpa ibu, dunia kehilangan bidadari terindah. Tanpa ibu, tak ada aku, kita dan mereka.

Hari hanyalah hari, pengorbanan benarlah pengorbanan. Tiada hari tanpa pengorbanan, tiada pengorbanan tanpa hati. Hati yang kuat sekaligus lembut. Perpaduan berharga yang ada hanya pada diri sang bunda. Cinta tak terbatas yang takkan mungkin terbalas. Cinta paling ikhlas yang takkan lepas. Cinta ibu tak mengenal ruang dan waktu. Mencintai anak dengan setulus kalbu. Lalu timbul pertanyaan, apakah kita benar-benar mencintai ibu? Mungkinkah kita hanya merasa mencintai ibu?

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

— Iwan Fals, Ibu

 

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s