Menjadi Diri Sendiri

Banyak orang berkata ingin menjadi diri sendiri. Menjadi pribadi seutuhnya yang tidak mengekor pada pribadi orang lain. Namun, banyak yang lupa menjadi diri sendiri bukan hanya soal tidak mengekor pada pribadi orang lain, tapi juga bagaimana untuk tidak mengekor pada sikap orang lain karena sikap bagian dari diri. Misalkan kita merasa telah menjadi diri sendiri dan mengklaim bukan pencaci maki. Anehnya, saat dicaci maki kita malah berbalik mencaci maki.  Tidakkah ini menunjukkan kita masih dikendalikan sikap orang lain. Apa sudah dapat dikatakan telah “Menjadi diri sendiri” jika masih mengekor pada sikap orang lain?

Anggaplah balasan cacian itu sebagai respon atau pembelaan, tapi apakah merespon harus dengan hal yang sama atau bahkan lebih buruk? Kita yang bukan pencaci kenapa harus ikut mencaci? Toh tak pantas juga rasanya bersikap seperti itu. Tidak hanya karena hal tersebut bukan bagian dari diri kita, tapi juga memang hal yang tidak semestinya. Lalu bagaimana jika diri yang pencaci ingin menjadi baik dan berbuat baik? Apakah termasuk tidak menjadi diri sendiri? Tak perlu jadi orang lain untuk bersikap baik. Justru banyak yang menjadi orang lain saat berbuat tak baik, meski manusia memiliki beberapa sifat dasar yang tak baik.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fushshilat [41] : 34)

Tak sedikit orang berbuat buruk berdalih dengan mengatakan bahwa itulah dirinya yang sebenarnya. Ingin menjadi diri sendiri hingga akhirnya mengorbankan nurani. Setiap orang memang memiliki sisi buruk, tapi bukan berarti tidak memiliki sisi baik. Jika berbuat buruk karena merasa itu dirinya, kenapa bukan berbuat baik yang dijadikan diri sesungguhnya. Bukan karena manusia yang terlahir dengan keburukan, tapi semua itu kembali pada pilihan. Baik dan buruk diberikan dalam bentuk satu paket. Tinggal manusianya melangkah ke arah mana. Apakah tetap pada keburukan atau bertransformasi ke arah kebaikan.

Merubah sikap dalam perbaikan, bukan berarti menjadi orang lain demi sebuah penilaian. Tak ada jaminan akan jadi yang terbaik. Namun tak ada larangan untuk melakukan yang terbaik. Tak ada jaminan mendapat yang terbaik. Namun melakukan yang terbaik tentu pilihan yang baik. Manusia tak ada yang sempurna. Tak pula dituntut untuk menjadi sempurna. Manusia tak terlepas dari kesalahan, untuk itulah “diciptakan” kata maaf dan penyesalan. Manusia tak terlepas dari kekurangan, untuk itulah “diciptakan” kata perubahan dan perbaikan. Menerima kondisi diri apa adanya, bukan berarti memasrahkan sisi buruk untuk tetap ada bahkan semakin nyata. Manusia diberi akal sehat dan pengetahuan, semestinyalah bisa memilah sisi pribadi mana yang layak diterima, mana yang patut dibina.

“To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on.”
— Dave Pelzer

Advertisements

Published by

Muhamad Asep D

Hanya manusia

Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s