Penampakan Senja

Senja tidak memberi apapun kecuali kesementaraan. Senja tidak membawa apapun melainkan kegelapan. Tapi dia indah di tengah kesementaraannya. Meskipun keindahannya menimbulkan dilema, apakah keindahan senja terletak pada kesementaraannya atau penampakannya. Bila senja indah karena kesementaraannya, bagaimana dengan keindahan surga yang hadir selamanya? Bila senja indah karena penampakannya, bukankah setiap hari dia selalu ada? Lalu apa yang istimewa? Bahkan penampakannya bisa dibunuh oleh langit yang muram di musim penghujan.

Advertisements

Ketika Senja

Mengapa kau selalu hadir di saat matahari kembali ke peraduan? Senja tak pernah memintamu untuk datang. Begitu pun aku yang selalu terpaku dan tak tahu langkah apa yang harus kubuat dalam menghadapi bidak-bidak takdir. Apakah aku begitu bodoh hingga tak sanggup berbuat sesuatu sekecil apapun? Kenyataannya bukan aku bodoh, tapi akulah kebodohan itu sendiri.

Pahit memang. Suka tak suka, mau tak mau, menelan pahit telah menjadi rutinitas sehari-hari. Namun bukan soal kenyataan itu terasa pahit, tapi pahit itu sendiri adalah kenyataan. Kenyataan yang tak sedikit pun berkurang ditelan waktu. Tak ada tanda akan memudar meski hanya sebentar. Malah semakin pekat di tengah ingatan yang kian melekat. Di tengah kegelisahan yang tak kunjung mencair melainkan memadat.

Continue reading Ketika Senja