Menikah Muda, Haruskah?

Saat ini menikah muda seolah-olah menjadi tren kekinian. Mulai dari kalangan umum sampai artis, tak sedikit yang memilih untuk menikah muda. Setiap akhir pekan atau setidaknya hampir setiap akhir pekan di timeline Instagram saya berseliweran foto-foto pesta pernikahan yang banyaknya diisi pasangan kelahiran 90an. Bahkan ada gerakan menikah muda di sosial media. Pertanyaannya, haruskah menikah muda? Apakah menikah muda ini pasti baik dilakukan semua orang?

Menghindari Zina[1]

Pernikahan memang bisa menjadi cara untuk menghindari perzinahan. Tapi kenyataannya pernikahan bukan melulu soal selangkangan. Toh tak sedikit pernikahan yang dibumbui perselingkuhan. Jadi kita bisa melihat, sesuatu yang menjaga diri dari perzinahan itu pernikahan atau orang yang menikah itu sendiri. Meskipun status pernikahan mampu menjadi pegangan yang kuat, tapi diri sendirilah yang memutuskan untuk berpegang secara kuat atau tidak.

Continue reading Menikah Muda, Haruskah?

Advertisements

Suatu Malam di Restoran Cepat Saji

Ada beberapa hal yang cukup hadir dan terjadi tanpa terjelaskan secara paripurna. Bukan karena pasrah dalam fatalisme, tapi karena keterbatasan sudah menjadi bagian logika dalam memahami realitas di luar diri kita. Meskipun logika selalu bertanya dan pengalaman membuka mata, tapi kenyataan selalu muncul tidak secara utuh. Selalu ada misteri yang mengiringi. Selalu muncul pertanyaan yang tak pernah bertemu kata final.

Lalu di mana kita mampu menemukan jawaban? Bukankah kita selalu haus untuk menuntaskan dahaga akan tanda tanya. Bukankah kau selalu bertanya mungkinkah aku dan kau bisa menjadi kita. Mungkinkah?

Penampakan Senja

Senja tidak memberi apapun kecuali kesementaraan. Senja tidak membawa apapun melainkan kegelapan. Tapi dia indah di tengah kesementaraannya. Meskipun keindahannya menimbulkan dilema, apakah keindahan senja terletak pada kesementaraannya atau penampakannya. Bila senja indah karena kesementaraannya, bagaimana dengan keindahan surga yang hadir selamanya? Bila senja indah karena penampakannya, bukankah setiap hari dia selalu ada? Lalu apa yang istimewa? Bahkan penampakannya bisa dibunuh oleh langit yang muram di musim penghujan.

Ketika Senja

Mengapa kau selalu hadir di saat matahari kembali ke peraduan? Senja tak pernah memintamu untuk datang. Begitu pun aku yang selalu terpaku dan tak tahu langkah apa yang harus kubuat dalam menghadapi bidak-bidak takdir. Apakah aku begitu bodoh hingga tak sanggup berbuat sesuatu sekecil apapun? Kenyataannya bukan aku bodoh, tapi akulah kebodohan itu sendiri.

Pahit memang. Suka tak suka, mau tak mau, menelan pahit telah menjadi rutinitas sehari-hari. Namun bukan soal kenyataan itu terasa pahit, tapi pahit itu sendiri adalah kenyataan. Kenyataan yang tak sedikit pun berkurang ditelan waktu. Tak ada tanda akan memudar meski hanya sebentar. Malah semakin pekat di tengah ingatan yang kian melekat. Di tengah kegelisahan yang tak kunjung mencair melainkan memadat.

Continue reading Ketika Senja